JAKARTA - Banyak masyarakat bertanya-tanya, mengapa hujan masih sering turun, meski sudah memasuki musim kemarau. Dari total 699 zona musim, sebanyak 531 wilayah masih mengalami hujan, 55 wilayah sudah memasuki kemarau, dan 113 wilayah memiliki pola musim berbeda.
Berdasarkan penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dikutip Antara, Rabu 22 April, kondisi ini terjadi karena April 2026 masih dalam fase peralihan.
BMKG mencatat, saat ini baru sekitar 7,8 persen wilayah Indonesia yang benar-benar masuk musim kemarau. Mayoritas wilayah atau sekitar 76 persen masih mengalami musim hujan, sementara sisanya berada pada kondisi peralihan.
Secara terperinci, dari total 699 zona musim, sebanyak 531 wilayah masih mengalami hujan, 55 wilayah sudah memasuki kemarau, dan 113 wilayah memiliki pola musim berbeda.
BMKG menjelaskan, musim kemarau di Indonesia dipengaruhi angin monsun dari Australia yang bergerak dari selatan ke utara. Karena itu, tidak semua wilayah mengalami kemarau secara bersamaan.
Adapun perkiraan awal musim kemarau terjadi secara bertahap:
- April–Mei: Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah
- Juni: Sebagian besar wilayah Sumatera
- Juli: Sebagian Kalimantan dan Sulawesi
Pola ini menyebabkan sebagian daerah masih diguyur hujan, meski wilayah lain sudah mulai kering.
BMKG juga menegaskan, musim kemarau tidak berarti hujan berhenti total. Batas kemarau adalah saat curah hujan kurang dari 50 mm dalam 10 hari (satu dasarian) dan berkelanjutan selama tiga dasarian berturut-turut. Jadi, peluang hujan tetap ada.
Dengan kondisi tersebut, hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, terutama saat masa transisi musim.
Terkait isu kemarau ekstrem, BMKG memastikan bahwa kemarau 2026 memang diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata normal. Namun, kondisi ini tidak dapat dikategorikan sebagai yang terparah dalam 30 tahun terakhir.
BMKG juga menegaskan, musim kemarau tidak berarti hujan berhenti total. Batas kemarau adalah saat curah hujan kurang dari 50 mm dalam 10 hari (satu dasarian) dan berkelanjutan selama tiga dasarian berturut-turut. Jadi, peluang hujan tetap ada.
BACA JUGA:
Dengan kondisi tersebut, hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, terutama saat masa transisi musim.
Terkait isu kemarau ekstrem, BMKG memastikan bahwa kemarau 2026 memang diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata normal. Namun, kondisi ini tidak dapat dikategorikan sebagai yang terparah dalam 30 tahun terakhir.