Bagikan:

JAKARTA - Jamur selama ini kalah perhatian dari satwa dan tumbuhan dalam urusan konservasi. The Guardian yang dikutip Kamis, 16 April melaporkan, para ilmuwan Afrika kini mendorong agar jamur, atau funga, diperlakukan sama pentingnya dengan flora dan fauna, setelah makin banyak bukti menunjukkan perannya sangat besar dalam menjaga ekosistem dan menyimpan karbon.

Dorongan itu datang dari lapangan yang serba terbatas. Di Madagaskar, Anna Ralaiveloarisoa, mikolog pertama yang lahir dan besar di negara itu, mengatakan kurang dari 1 persen dari perkiraan 100.000 spesies jamur di sana yang sudah dideskripsikan secara ilmiah. Mikolog adalah ilmuwan yang meneliti jamur. Ia kini sedang mengklasifikasikan 200 spesies baru yang telah ia identifikasi, sambil menghadapi kendala yang tidak ringan. Kendalanya adalah infrastruktur minim, lokasi riset terpencil, dan hampir tak ada ahli lain di negaranya untuk diajak bekerja sama.

“Jamur adalah salah satu hal terpenting di dunia. Mereka memberi makan 90 persen tumbuhan darat. Tanpa mereka, tidak ada kehidupan di Bumi,” kata Ralaiveloarisoa.

Masalah yang ia hadapi bukan satu. Masih merujuk The Guardian, banyak ilmuwan Afrika lain juga sedang merintis riset dan konservasi jamur di negara masing-masing. November lalu, banyak dari mereka bertemu untuk pertama kali dalam Kongres Internasional Konservasi Jamur di Cotonou, Benin. Forum itu mempertemukan mikolog dari 27 negara di Afrika, Eropa, Amerika, dan Asia, termasuk sejumlah ilmuwan Afrika yang menjadi satu-satunya, atau salah satu dari sangat sedikit, ahli jamur di negaranya.

Nourou Yorou, mikolog yang kini menjadi direktur jenderal Badan Sains dan Inovasi Benin, menyebut bidang ini telah berubah dari area yang nyaris tak dikenal 20 tahun lalu menjadi gerakan global yang dinamis. Tantangan berikutnya, kata dia, adalah menempatkan jamur dalam arus utama konservasi.

Alasannya makin sulit diabaikan. Sekitar 90 persen tumbuhan di Bumi bergantung pada jamur untuk mendapat nutrisi penting. Jamur mikoriza, yakni jamur yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman, juga berperan besar di bawah tanah. Studi terbaru menunjukkan hingga 36 persen emisi karbon dioksida tahunan dari bahan bakar fosil tersimpan dalam miselium bawah tanah jamur mikoriza. Miselium adalah jaringan benang-benang halus jamur yang tersembunyi di tanah.

David Minter, presiden International Society for Fungal Conservation, mengatakan jamur kerap diabaikan padahal kerjanya membuat ekosistem tetap berjalan. Ia juga mengingatkan, jamur tidak otomatis ikut terlindungi hanya karena ada kebijakan konservasi untuk hewan dan tumbuhan. Studi 2025 yang terbit di Nature menemukan kurang dari 10 persen titik panas kekayaan jamur mikoriza berada di kawasan lindung.

Di Afrika, gerakan ini dibangun lewat kerja keras yang sangat personal. Sydney Ndolo Ebika, mikolog pertama Republik Kongo, pernah harus mengirim email ke laboratorium luar negeri karena tak menemukan guru di negaranya. Kini ia mendirikan fungarium pertama di Kongo, yaitu tempat penyimpanan contoh jamur untuk riset dan pembuktian spesies baru. Di Zimbabwe, Cathy Sharp menempuh jalur pendidikan dengan meneliti pengetahuan anak-anak tentang jamur dan mendorong agar topik itu kembali masuk kurikulum sekolah. Sementara Joyce Jefwa dari Kenya menilai Afrika masih mencari bentuk dalam konservasi jamur, tetapi mulai menemukan suara bersama.

Beberapa bulan setelah kongres Benin, para peserta merilis Deklarasi Cotonou, dokumen yang menyoroti masih minimnya keterwakilan jamur dalam kebijakan konservasi lokal, nasional, dan global. Pesannya jamur terlalu lama luput dari perhatian, padahal tanpa mereka kehidupan di darat ikut goyah.