JAKARTA - Iran harus membatalkan semua rencana untuk mengenakan biaya transit di Selat Hormuz dan menjaga agar transit tetap terbuka untuk semua, kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas pada Hari Jumat.
"Berdasarkan hukum internasional, transit melalui jalur air seperti Selat Hormuz harus tetap terbuka dan gratis," kata Kallas dalam unggahan di X, melansir Al Arabiya dari Reuters (17/4).
"Skema pembayaran untuk transit apa pun akan menciptakan preseden berbahaya bagi jalur maritim global. Iran harus membatalkan rencana apa pun untuk mengenakan biaya transit," tandasnya.
Kallas menambahkan, Eropa akan berperan dalam memulihkan arus bebas energi dan perdagangan setelah gencatan senjata di kawasan itu berlaku.
Sementara itu, dalam unggahan terpisah di X Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, Uni Eropa dapat membantu melalui berbagi data satelit dan dengan memperkuat misi angkatan laut Aspides yang saat ini beroperasi di Laut Merah.
Bulan lalu, anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi mengatakan, Negeri Para Mullah telah menetapkan "konsep kedaulatan baru" atas selat tersebut setelah 47 tahun dengan berencana mengenakan biaya 2 juta dolar AS kepada kapal-kapal tertentu untuk melewati selat tersebut.
BACA JUGA:
"Memungut 2 juta dolar AS sebagai biaya transit dari beberapa kapal yang melintasi selat tersebut mencerminkan kekuatan Iran," kata Boroujerdi, dikutip dari Anadolu.
Diketahui, sejak awal Maret, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal, jalur transit minyak utama yang biasanya menangani sekitar 20 juta barel per hari dan sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global.
Penutupan yang disebabkan serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran dan menyebabkan ketegangan di kawasan, telah meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi, mendorong harga minyak lebih tinggi, dan menimbulkan kekhawatiran ekonomi global.