JAKARTA - Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi dan Sultan Oman Haitham bin Tariq al-Said, Selasa (14/4), sepakat bahwa kedua negara akan bekerja sama mendorong deeskalasi ketegangan di Timur Tengah, termasuk memastikan keamanan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Usai melakukan pembicaraan telepon dengan Haitham, Takaichimengatakan kepada wartawan bahwa ia telah menjelaskan pandangan Jepang mengenai pentingnya menjaga gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta segera mencapai kesepakatan akhir melalui upaya diplomatik.

Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dalam pengumuman pada Rabu (8/4). Namun demikian, pembicaraan tingkat tinggi yang digelar pada akhir pekan lalu, untuk merundingkan perdamaian jangka panjang, berakhir tanpa terobosan.
Amerika Serikat juga menyatakan telah mulai memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh lalu lintas maritim yang berupaya masuk atau keluar dari pelabuhan di Iran sejak Senin (13/4).
BACA JUGA:
Takaichi juga menyampaikan bahwa pemerintahnya akan mempertimbangkan langkah yang dapat dilakukan untuk membantu pemulihan infrastruktur yang rusak di Oman, salah satu pemasok minyak mentah bagi Jepang, setelah serangan Iran terhadap negara-negara Teluk. Hal itu dilakukan sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari.
Jepang mengandalkan Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya, yang sebagian besar melewati Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi global yang saat ini praktis tertutup akibat konflik tersebut.