Bagikan:

JAKARTA - Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kemunculan kembali wabah pes di Indonesia meski dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia.

Peneliti BRIN Ristiyanto menjelaskan, terdapat fenomena silent period, yakni masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali.

“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Antara, Senin, 13 April.

Menurut dia, pes diduga masih berada dalam fase tersebut. Indikasinya terlihat dari masih ditemukannya bakteri penyebab, vektor, dan reservoir penyakit, seperti pinjal serta tikus, di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Ristiyanto menuturkan perubahan lingkungan menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk dinilai telah mengganggu keseimbangan ekosistem sehingga habitat tikus semakin mendekat ke permukiman manusia.

“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” ujarnya.

Senada dengan itu, Peneliti BRIN Muhammad Choirul Hidajat menyebut perubahan iklim turut berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.

“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” kata Choirul.

Ia menegaskan tikus sebagai reservoir utama bakteri Yersinia pestis masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh hewan tersebut.

Meski tidak ada kasus pada manusia selama lebih dari satu dekade, beberapa daerah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai wilayah fokus, antara lain Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.

Choirul mengingatkan kondisi itu tidak boleh dianggap sepele. Menurut dia, ketiadaan kasus bukan berarti penyakit telah hilang sepenuhnya.

Sebagai langkah antisipasi, BRIN merekomendasikan penguatan surveilans terpadu berbasis pendekatan One Health, yang mencakup pemantauan manusia, hewan, dan vektor penyakit. Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan serta pemantauan wilayah bekas endemis dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.