Bagikan:

APAU KAYAN - Jembatan yang terbuat dari kayu log di Kecamatan Sungai Boh, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), ambruk pada Selasa (7/4) malam.

Peristiwa itu terjadi di Kilometer 31 pada jalur penghubung dari Long Apung, Kecamatan Kayan Selatan menuju Desa Mahak, Kecamatan Sungai Bho. Akibatnya, akses transportasi darat lumpuh total.

Salah satu warga setempat, Amai Alan mengatakan, kejadian itu diketahui warga pada pagi hari saat melintas di lokasi.

"Ambruknya jembatan membuat kendaraan tidak dapat melintas, badan jembatan terlihat runtuh dengan lubang besar di bagian tengah akibat kayu log patah," kata, Alan, Rabu, 8 April.

Ia menyebut, jembatan tersebut selama ini menjadi akses utama masyarakat untuk mobilitas sehari-hari, termasuk distribusi bahan kebutuhan pokok.

"Kondisi jembatan yang sudah lama serta faktor cuaca diduga menjadi penyebab kerusakan hingga akhirnya ambruk," jelasnya.

Akibat kejadian ini, aktivitas warga di wilayah Apau Kayan terganggu. Padahal, jembatan itu digunakan warga perbatasan untuk berpergian ke wilayah Long Bagun, Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur.

"Kita berharap agar segera ada penanganan cepat dari pemerintah, mengingat jalur tersebut merupakan akses vital penghubung antarwilayah," ujarnya.

Sementara itu, Camat Kayan Hulu, Stim Ala menegaskan, buruknya kondisi infrastruktur jalan dan jembatan di wilayah perbatasan akibat minimnya perhatian pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

“Selama tiga tahun terakhir kondisi jalan dan jembatan kerap tidak mendapat perhatian, baik dari pemerintah pusat maupun Provinsi Kaltara Sehingga saat ini kerusakannya sangat parah, ditambah lagi beberapa jembatan putus karena hanya menggunakan kayu log,” tegasnya.

Ia pun khawatir jika tidak segera ditangani, kerusakan ini akan berdampak serius terhadap ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok masyarakat.

“Saya khawatir jika tidak ada penanganan segera terhadap kerusakan jalan dan jembatan yang terputus saat ini, akan terjadi kelangkaan BBM dan sembako,” lanjutnya.

Stim Ala pun berharap adanya perhatian serius dari pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR serta pemprov untuk segera mengambil langkah konkret.

“Kami berharap pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian PUPR dan pemerintah provinsi segera mencari solusi. Ini untuk mencegah terjadinya kelangkaan BBM dan sembako di wilayah perbatasan, khususnya Apau Kayan yang meliputi empat kecamatan, yakni Kayan Hulu, Kayan Selatan, Kayan Hilir, dan Sungai Boh,” tegasnya.

Ia menambahkan, jika tidak ada penanganan dalam waktu dekat, dampak yang lebih luas akan segera dirasakan masyarakat.

“Perkiraan saya, jika tidak ditangani segera, dalam dua hingga tiga minggu ke depan akan terjadi kelangkaan sembako dan BBM,” pungkasnya.