Bagikan:

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Hari Senin mengatakan kepada wartawan, Iran dapat dihancurkan dalam satu malam, "dan malam itu mungkin besok malam," memperingatkan Tehran mereka harus membuat kesepakatan pada Selasa malam atau menghadapi serangan bom yang lebih luas.

Presiden Trump, yang didampingi oleh Menteri Perang Pete Hegseth dan pejabat keamanan nasional lainnya, sebelumnya telah berjanji untuk memberlakukan tenggat waktu Selasa malam bagi Iran untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata atau menghadapi serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur penting lainnya.

Ia menuntut Iran untuk meninggalkan senjata nuklir dan membuka kembali jalur transit minyak Selat Hormuz.

"Seluruh negara dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," kata Presiden Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, melansir Al Arabiya dari Reuters (7/4).

"Saya harap saya tidak perlu melakukannya," lanjut Presiden Trump.

Sebelumnya, para kritikus mengatakan Presiden Trump akan melakukan kejahatan perang jika AS menyerang pembangkit listrik sipil, sebuah poin yang dibantah Trump pada hari Senin.

"Saya tidak khawatir tentang itu. Tahukah Anda apa itu kejahatan perang? Memiliki senjata nuklir," ujar Presiden Trump dalam acara Paskah untuk anak-anak di halaman selatan Gedung Putih.

Sementara, Kepala Pentagon Pete Hegseth mengatakan dalam briefing, volume serangan terbesar sejak hari pertama operasi melawan Iran akan terjadi pada Hari Senin, memperingatkan serangan lebih besar akan terjadi pada Hari Selasa.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang hingga saat ini, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Negeri Para Mullah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Selain itu, Iran juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz, jalur air yang menjadi salah satu urat nadi transportasi minyak dan gas global