JAKARTA - Porselen Dehua, keramik putih khas China yang di Barat dikenal sebagai Blanc de Chine, kembali menarik perhatian lewat karya para seniman muda yang memadukan teknik tradisional dengan pendekatan kontemporer.
Menurut laporan China Daily yang dikutip Senin, 6 April, tradisi keramik dari Dehua, Provinsi Fujian, itu telah berusia lebih dari 3.700 tahun dan lama dikenal karena warna putihnya yang khas serta tingkat presisi teknik yang tinggi.
Salah satu karya yang menonjol adalah Princess Yushu buatan maestro keramik Lian Deli. Karya yang dipamerkan di Museum Seni Guangdong itu dikenal karena detailnya yang rumit, termasuk jubah tembus cahaya dan pahatan rambut setebal 0,2 milimeter. Lian mengatakan karya tersebut merupakan porselen Dehua paling tipis yang pernah dibuat dan membutuhkan hampir tujuh tahun serta ratusan kali pembakaran yang gagal untuk diselesaikan.
Tingkat kesulitan teknik Dehua juga digambarkan oleh seniman porselen Zhou Yao. Menurut dia, dari satu kali pembakaran tungku berisi sekitar 20 benda, kadang hanya satu yang berhasil. Setiap tahap, mulai dari pembentukan, pemahatan, pengeringan, hingga pembakaran, membutuhkan ketepatan yang sangat tinggi.
BACA JUGA:
Di tengah kerumitan itu, generasi baru perajin Dehua mulai menghadirkan bentuk-bentuk yang berbeda. Lai Xirong, misalnya, dikenal lewat karya yang memasukkan simpul-simpul porselen ke dalam bejana. Karyanya mencakup patung Knot, cangkir kopi bersimpul, hingga “mi instan” dari porselen. Lai mengatakan simpul China memiliki makna keberuntungan dan ingin membawanya lebih dekat ke kehidupan sehari-hari.
Seniman lain, Zhang Heirui, memadukan teknik tradisional Dehua dengan unsur budaya global. Salah satu karyanya, Lunar Ice Cream Cone, berbentuk cone es krim bulan lengkap dengan Kelinci Giok. Karya lainnya, Black and White in Shakespeare’s Eyes, mengeksplorasi William Shakespeare dan ketegangan sosial-politik era Renaisans.
Pendekatan Zhang memunculkan pujian sekaligus kritik. Namun, dua karyanya mendapat pengakuan internasional. Lunar Ice Cream Cone dikoleksi Tate Modern di Inggris, sedangkan Black and White in Shakespeare’s Eyes masuk koleksi Centre Pompidou di Prancis.
Porselen Dehua sendiri telah dikenal di Eropa sejak abad ke-17 dan ke-18 melalui Jalur Sutra Maritim. Kini, interpretasi baru dari generasi muda kembali membawa tradisi itu ke perhatian publik global. (Sumber: China Daily)