JAKARTA - Arkeolog kelautan menemukan bangkai kapal perang Denmark Dannebroge di dasar Pelabuhan Kopenhagen, lebih dari 200 tahun setelah kapal itu ditenggelamkan armada Inggris pimpinan Laksamana Horatio Nelson dalam Pertempuran Kopenhagen 1801.
Seperti dilaporkan The Guardian yang dikutip Minggu, 5 April, temuan itu diumumkan Museum Kapal Viking Denmark pada Kamis, bertepatan dengan 225 tahun pertempuran yang menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah Denmark.
Saat ini para penyelam berpacu dengan waktu untuk mengungkap sisa-sisa kapal tersebut. Lokasi bangkai kapal berada di area yang nantinya akan terdampak proyek Lynetteholm, pembangunan kawasan permukiman baru di tengah Pelabuhan Kopenhagen yang ditargetkan rampung pada 2070.
Penggalian dilakukan dalam kondisi sulit. Para penyelam bekerja di kedalaman sekitar 15 meter, di tengah endapan tebal dan jarak pandang yang nyaris nol.
Kepala arkeologi maritim Museum Kapal Viking Denmark, Morten Johansen, yang dilansir dari laporan The Guardian, mengatakan temuan itu penting karena dapat memberi gambaran lebih nyata tentang apa yang terjadi di atas kapal saat pertempuran berlangsung.
BACA JUGA:
Dalam Pertempuran Kopenhagen, armada Inggris menyerang dan mengalahkan angkatan laut Denmark yang membentuk blokade pertahanan di luar pelabuhan. Ribuan orang tewas dan terluka dalam bentrokan laut yang berlangsung selama berjam-jam itu. Serangan tersebut bertujuan memaksa Denmark keluar dari aliansi negara-negara Eropa utara yang juga mencakup Rusia, Prusia, dan Swedia.
Di tengah pertempuran itu, Dannebroge yang dikomandoi Komodor Olfert Fischer menjadi sasaran utama Nelson. Kapal sepanjang 48 meter itu dihantam tembakan meriam di dek atas, lalu terbakar setelah terkena peluru pembakar.
Nelson kemudian menawarkan gencatan senjata. Setelah itu, kesepakatan penghentian tembak-menembak dicapai dengan Putra Mahkota Denmark, Frederik. Dannebroge yang sudah rusak parah hanyut ke utara sebelum akhirnya meledak.
Dari lokasi penggalian, arkeolog menemukan dua meriam, seragam, lencana, sepatu, botol, serta bagian rahang bawah seorang pelaut. Temuan terakhir itu diduga milik salah satu dari 19 awak yang hingga kini belum diketahui nasibnya.
Menurut para ahli, ukuran bagian-bagian kayu yang ditemukan cocok dengan gambar lama kapal tersebut. Penanggalan dendrokronologi, yakni metode penentuan usia kayu melalui cincin pohon, juga mengaitkan bangkai itu dengan tahun pembangunan kapal.
Lokasi penggalian juga dipenuhi bola meriam, yang menjadi risiko tersendiri bagi para penyelam saat bekerja di perairan keruh.
Bagi Denmark, temuan ini bukan sekadar penemuan arkeologi bawah air. Bangkai Dannebroge membuka lagi halaman lama dari pertempuran yang selama ini lebih banyak hidup di buku sejarah dan lukisan.