Bagikan:

JAKARTA - Rusia menegaskan akan terus membantu Kuba setelah kapal tanker berbendera Rusia mengirim pasokan minyak mentah pertama ke negara itu dalam tiga bulan terakhir. Mengutip Aljazeera, Kamis, 2 April, pernyataan ini muncul ketika Kuba masih terjepit krisis energi dan Moskow kembali menekan Amerika Serikat agar mencabut blokade energi terhadap Havana.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan Kuba merupakan sahabat dekat dan mitra Rusia di kawasan Karibia. Karena itu, menurut Zakharova, Moskow tidak akan meninggalkan negara pulau tersebut. Ia juga menyatakan Rusia berdiri bersama Kuba dan menuntut AS mencabut blokade terhadap negara yang disebutnya merdeka dan berdaulat itu.

Pernyataan itu keluar sehari setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengizinkan kapal Anatoly Kolodkin melanjutkan pelayaran meski blokade energi Washington terhadap Kuba masih berlaku. Kapal tanker jenis Aframax itu masuk ke Teluk Matanzas, pelabuhan supertanker dan penyimpanan bahan bakar terbesar di Kuba, dengan membawa 730.000 barel minyak setelah menempuh perjalanan tiga pekan dari Rusia.

Menurut laporan Aljazeera, Kuba mengalami krisis energi sejak Januari setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang selama ini menjadi sekutu Kuba sekaligus salah satu pemasok minyak utamanya, disingkirkan. Situasi itu membuat Kuba kehilangan salah satu sumber pasokan energi pentingnya.

Krisis tersebut memicu pemadaman listrik berulang di negara berpenduduk 10 juta jiwa itu. Dampaknya meluas ke rumah sakit, transportasi umum, dan produksi pertanian yang disebut mendekati titik lumpuh.

Kedatangan kapal itu disambut positif di Kuba, termasuk oleh Menteri Energi dan Pertambangan Vicente de la O Levy. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Rusia atas dukungan yang diberikan di tengah situasi energi yang rumit.

Trump sebelumnya mengatakan tidak mempermasalahkan pengiriman minyak Rusia ke Kuba dan menyebut kapal itu diizinkan melintas atas alasan kemanusiaan. Aljazeera melaporkan, kalau Trump juga melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Kuba dan menyatakan satu kapal minyak tidak akan banyak mengubah keadaan.

Meski begitu, pasokan ini memberi napas sementara bagi Havana. Kuba saat ini hanya mampu memproduksi sekitar 40 persen kebutuhan bahan bakarnya dan masih bergantung pada impor untuk menopang jaringan energi nasional. Para ahli memperkirakan muatan kapal itu dapat diolah menjadi sekitar 180.000 barel solar, cukup untuk memenuhi kebutuhan harian Kuba selama sembilan hingga 10 hari.