Bagikan:

JAKARTA - Yayasan Akelius Swedia berencana membangun 400 sekolah di Jalur Gaza, Palestina, lantaran lebih dari 650.000 anak di sana tidak memeroleh pendidikan selama dua tahun terakhir, menyusul hancurnya 97 persen fasilitas sekolah di wilayah tersebut.

Inisiatif ini bertujuan untuk memulihkan kesempatan belajar setelah kerusakan luas pada infrastruktur pendidikan di seluruh Gaza.

Pengusaha Swedia Roger Akelius memberikan sumbangan untuk Gaza pada 20 Maret bekerja sama dengan pemerintah Swedia melalui Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF).

Yayasan Akelius, yang didirikan pada tahun 2007, sebelumnya telah memberikan bantuan sebesar 60 juta dolar kepada Palestina. Kontribusi terbarunya untuk Gaza berjumlah 75 juta dolar.

Mengkhususkan diri dalam pedagogi modern, yayasan ini menjalankan kursus daring gratis dalam bahasa dan matematika dengan tim yang terdiri dari sekitar 150 staf.

Dengan anggaran tahunan sekitar 300 juta dolar, yayasan ini berupaya mengarahkan sumber dayanya ke proyek-proyek pendidikan dan telah mendukung inisiatif pendidikan di 40 negara.

Yayasan ini terutama bekerja melalui organisasi kemanusiaan termasuk UNICEF, badan pengungsi PBB (UNHCR), SOS Children’s Villages — sebuah organisasi internasional yang menyediakan perawatan berbasis keluarga untuk anak-anak yatim piatu dan terlantar — dan Dokter Tanpa Batas (MSF).

Dalam wawancara dengan Anadolu Akelius mengatakan, yayasan tersebut berencana untuk menyediakan akses ke sekolah, area bermain, dan makanan untuk anak-anak di Gaza.

Ia mencatat, donasi terbaru akan mendanai pembangunan 400 sekolah, masing-masing dirancang untuk 250 anak.

"Ini adalah proyek yang menantang. Tujuan kami adalah membangun sekolah tenda dan bangunan permanen, mempekerjakan guru, dan menyediakan 100.000 makanan per hari selama lima tahun. Seperti biasa, Israel akan membatasi atau melarang akses. Mereka akan menembak staf sekolah dan anak-anak," kata Akelius, dikutip dari Anadolu (31/3).

Ia mengatakan, Pemerintah Swedia telah memberi tahu otoritas Israel tentang upaya bantuan tersebut. Swedia diketahui menyumbangkan sekitar 35 juta dolar melalui UNICEF, sehingga total paket bantuan mencapai lebih dari 100 juta dolar.

Diketahui, sekolah yang ada di Gaza tidak dapat beroperasi lagi setelah Israel menghancurkan atau merusak 96 persen lembaga pendidikan di wilayah tersebut.

Menurut Akelius, anak-anak di Gaza tidak hanya perlu belajar membaca dan menulis, tetapi juga perlu merasakan kembali kehidupan normal.

Sedangkan data UNICEF menyebutkan lebih dari 97 persen sekolah di Gaza telah rusak dan sekitar 658.000 anak tidak bersekolah selama dua tahun.