JAKARTA - Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte pada Hari Kamis merilis Laporan Tahunan aliansi tahun 2025, menyoroti peningkatan bersejarah dalam pengeluaran pertahanan oleh sekutu Eropa dan Kanada, memuji peran Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.
Sekjen Rutte menggambarkan tahun 2025 sebagai "tahun yang penuh peristiwa," ditandai dengan lingkungan keamanan yang berubah dengan cepat.
Ia mengidentifikasi Rusia sebagai "ancaman paling signifikan dan langsung" terhadap keamanan Euro-Atlantik, dengan menyebutkan pelanggaran wilayah udara, sabotase, serangan siber, campur tangan politik, dan kampanye disinformasi.
"Gambaran ancaman sepanjang tahun 2025 memperjelas perlunya berbuat lebih banyak. Dan sepanjang tahun, NATO terus bersatu untuk memastikan bahwa kita siap dan mampu menanggapi ancaman apa pun, di semua domain, baik sekarang maupun di masa depan," katanya, melansir Anadolu (27/3).
Mengenai Ukraina, Sekjen Rutte menekankan dukungan berkelanjutan dari NATO dan negara-negara sekutu.
"Peralatan penting ke Ukraina terus mengalir, dan itu penting, karena kita harus melakukan segalanya," jelas Sekjen Rutte.
Laporan tersebut juga menunjukkan kemajuan signifikan dalam investasi pertahanan.
Untuk pertama kalinya, semua sekutu NATO memenuhi target pengeluaran pertahanan sebesar 2 persen dari PDB yang ditetapkan pada tahun 2014, dengan Eropa dan Kanada secara kolektif meningkatkan pengeluaran sebesar 20% dibandingkan dengan tahun 2024.
Sekjen Rutte mencatat pergeseran pola pikir di antara sekutu Eropa: "Terlalu lama, Sekutu Eropa dan Kanada terlalu bergantung pada kekuatan militer AS. Kita tidak cukup bertanggung jawab atas keamanan kita sendiri. Tetapi telah terjadi pergeseran pola pikir yang nyata."
Ia pun menyoroti kontribusi Pemerintahan Presiden Trump.
"Saya tidak percaya bahwa tanpa pemerintahan Amerika saat ini, seluruh NATO akan mencapai 2 persen pada akhir tahun 2025. Beberapa negara dengan ekonomi besar seperti Spanyol, Italia, Belgia, dan Kanada, masih jauh dari angka 2 persen. Mereka semua mencapai 2 persen dan ini membawa miliaran euro dan dolar untuk dibelanjakan pada pertahanan," urai Sekjen NATO.
Mengenai Iran, Sekjen Rutte menegaskan kembali posisi NATO yang sejak lama menentang Tehran memperoleh senjata nuklir, menyoroti ancaman yang ditimbulkan oleh program rudal Iran, dan mendukung upaya AS untuk mengurangi kemampuan tersebut.
BACA JUGA:
"AS tidak dapat berkonsultasi dengan sekutu karena mereka ingin merahasiakan kampanye tersebut. Dengan alasan yang baik untuk memastikan bahwa tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Sabtu pagi itu," jelasnya.
"Selalu ada risiko, jika Anda memberi tahu terlalu banyak orang, bahwa informasi mungkin bocor. Tetapi itu juga memiliki kelemahan karena membutuhkan waktu bagi Eropa untuk mengatur diri," kata Sekjen NATO.
Dalam kesempatan itu ia juga memuji kepemimpinan Eropa, khususnya Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Jepang, dan Belanda, atas koordinasi upaya internasional untuk menjaga jalur laut tetap terbuka.