JAKARTA - Kementerian Kesehatan mencatat tren kasus campak di Indonesia sempat meningkat pada awal Januari 2026 sebelum mulai menurun pada akhir bulan yang sama hingga saat ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni mengatakan pemantauan nasional menunjukkan ribuan laporan suspek maupun kasus campak sepanjang awal tahun ini.
"Secara nasional, tren suspek dan kasus campak dilaporkan meningkat sejak awal bulan Januari dan mulai menurun pada akhir bulan Januari 2026 sampai dengan sekarang," kata Andi kepada wartawan, Jumat, 13 maret.
Data hingga minggu ke-9 tahun 2026 menunjukkan jumlah laporan suspek dan kasus campak masih cukup tinggi. Tercatat, sebanyak 10.826 suspek dan 8.716 kasus, serta terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak pada 29 kabupaten/kota di 11 provinsi.
Kemenkes juga mencatat tren mingguan kasus campak yang terkonfirmasi laboratorium di 11 provinsi terdampak KLB umumnya mulai menurun.
Namun demikian, terdapat beberapa daerah yang masih menunjukkan angka kasus tinggi, salah satunya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di Kabupaten Bima dan Kota Bima.
Selain itu, terdapat 10 kabupaten/kota dengan jumlah suspek dan kasus campak tertinggi sepanjang 2026. Wilayah tersebut antara lain Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Bima, Kabupaten Tangerang, Kota Depok, hingga wilayah DKI Jakarta seperti Jakarta Barat dan Jakarta Pusat.
Beberapa kota lain yang juga mencatat angka kasus tinggi antara lain Pandeglang, Kota Palu, Kota Palembang, dan Kota Padang.
Untuk menekan penyebaran penyakit, pemerintah daerah di wilayah terdampak KLB melakukan outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi respons wabah campak-rubela bagi anak usia 9 hingga 59 bulan.
Data per 12 Maret 2026 menunjukkan sebanyak 22 kabupaten/kota yang mengalami KLB telah melaksanakan ORI MR dengan cakupan yang bervariasi.
Beberapa daerah dengan cakupan tertinggi antara lain Pamekasan sebesar 47,93 persen dan Jember 38,64 persen. Sementara wilayah lain masih mencatat cakupan rendah seperti Kota Tangerang yang baru mencapai 0,2 persen.
BACA JUGA:
Selain ORI, pemerintah juga menjalankan catch up immunization atau imunisasi kejar serentak campak-rubela di sejumlah wilayah dengan jumlah kasus tinggi.
Berdasarkan data Kemenkes, lima daerah dengan kasus campak tertinggi yang melaksanakan program tersebut antara lain Kota Jakarta Barat, Kota Jakarta Pusat, Kota Depok, Kota Tangerang Selatan, dan Kota Palu.
"Pelayanan imunisasi campak sangat penting untuk memberikan kekebalan atau perlindungan imunitas dari penyakit campak," ucap dia.
Layanan imunisasi campak saat ini dapat diakses masyarakat melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan posyandu. Selain itu, pemerintah juga menyediakan layanan imunisasi di pos pelayanan mudik yang berada di bandara dan pelabuhan untuk menjangkau masyarakat yang melakukan perjalanan.
Kemenkes juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam memastikan anak telah mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, yakni pada usia 9 bulan dan 18 bulan. Selain memastikan imunisasi, orang tua juga diminta memeriksa kondisi kesehatan anak sebelum melakukan perjalanan mudik.
"Kepedulian orang tua sangat diperlukan juga untuk menilai kondisi anak sebelum mudik, dengan cek suhu tubuh, cek kondisi kulit, adanya gejala batuk, pilek atau mata merah. Jika terdapat gejala tersebut, segera periksakan ke faskes dan sebaiknya menunda melakukan perjalanan karena akan menularkan ke orang lain," urai Andi.
Kemenkes mengingatkan virus campak memiliki daya tular yang sangat tinggi sehingga pencegahan harus dilakukan secara serius, yakni satu penderita dapat menularkan ke 12-18 orang.
Selain imunisasi, pemerintah juga terus mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk penggunaan masker saat sakit serta kebiasaan mencuci tangan.