JAKARTA - Presiden Donald Trump mengatakan pada Hari Kamis, Amerika Serikat diuntungkan dari kenaikan harga minyak karena statusnya sebagai produsen minyak terbesar di dunia.
"Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh di atas yang lain, jadi ketika harga minyak naik, kita menghasilkan banyak uang," tulis Presiden Trump di platform Truth Social miliknya, dilansir dari Anadolu (12/3).
Kendati demikian, Presiden Trump mengatakan fokus utamanya tetap pada pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir.
"Yang jauh lebih menarik dan penting bagi saya, sebagai Presiden, adalah menghentikan Kekaisaran jahat, Iran, dari memiliki senjata nuklir, dan menghancurkan Timur Tengah dan, memang, dunia," katanya.
"Saya tidak akan pernah membiarkan itu terjadi," tandas Presiden Trump.

Diketahui, ketegangan meningkat di Timur Tengah, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang menurut Teheran menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Ali Khamenei, mantan pemimpin tertinggi, dan lebih dari 150 siswi.
Sejak saat itu, Iran telah melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Teheran juga secara efektif memperketat Selat Hormuz sejak 1 Maret. Jalur air sempit ini mengangkut sekitar 20 juta barel minyak per hari dan sekitar 20 persen dari perdagangan gas alam cair global.
Komando militer Iran mengatakan pada Hari Rabu, dunia harus bersiap menghadapi harga minyak yang mencapai 200 dolar AS per barel, saat tiga kapal lagi diserang di Teluk yang diblokade.

Harga minyak yang melonjak awal pekan ini telah mereda dan pasar saham telah pulih, dengan investor bertaruh untuk saat ini Presiden AS Donald Trump akan menemukan cara cepat untuk mengakhiri perang yang Ia mulai bersama Israel hampir dua minggu lalu.
Namun, sejauh ini belum ada pengurangan ketegangan di lapangan, atau tanda-tanda bahwa kapal dapat berlayar dengan aman melalui Selat Hormuz, di mana seperlima minyak dunia telah diblokade di balik saluran sempit di sepanjang pantai Iran dalam gangguan pasokan energi terburuk sejak guncangan minyak tahun 1970-an.
"Bersiaplah harga minyak mencapai 200 dolar AS per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional yang telah Anda destabilisasi," kata juru bicara komando militer Iran Ebrahim Zolfaqari, dalam komentar yang ditujukan kepada Amerika Serikat, melansir Al Arabiya dan Reuters.
Presiden Trump sendiri pada Hari Rabu berjanji akan memberikan "keamanan luar biasa" bagi kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz, seiring Iran memperketat cengkeramannya di jalur laut vital tersebut di tengah perang Amerika Serikat-Israel dengan Teheran.
"Saya pikir Anda akan melihat keamanan yang luar biasa, dan itu akan terjadi dengan sangat, sangat cepat," kata Presiden Trump kepada wartawan di Gedung Putih ketika ditanya bagaimana Ia akan memastikan keamanan di jalur air penting bagi perdagangan minyak global tersebut.
BACA JUGA:
Selang sehari kemudian, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru Mojtaba Khamenei dalam sebuah pernyataan yang dibacakan oleh seorang presenter di televisi pemerintah pada Hari Kamis mengatakan, pasukan Iran harus menjaga Selat Hormuz yang strategis tetap tertutup.
"Pengungkit untuk memblokir Selat Hormuz harus benar-benar digunakan," kata Khamenei tentang jalur air strategis yang dilalui seperlima lalu lintas minyak dunia, melansir Al Arabiya dan AFP.
Ini adalah pernyataan pertamanya sejak ia diproklamasikan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pada Hari Minggu dan setelah pembunuhan ayah sekaligus pendahulunya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS dan Israel.