Bagikan:

BANDUNG - Inovasi teknologi penyaring air bersih hasil kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Paragon Corp dilaporkan berhasil membantu warga di wilayah terdampak bencana di Aceh Tamiang.

Teknologi tersebut bahkan disebut membantu memulihkan seorang bayi yang sebelumnya menderita diare kronis selama satu bulan setelah bencana.

Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB Nurlaela Arief mengatakan bayi tersebut berangsur pulih setelah keluarganya mulai mengonsumsi air hasil filtrasi dari sistem Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile milik ITB. Alat tersebut dipasang di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.

“Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana sinergi antara perguruan tinggi dan sektor industri dapat menghadirkan solusi teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Nurlaela dalam keterangan di Bandung, Antara, Minggu, 8 Maret.

Menurut dia, sebelumnya kondisi kesehatan bayi tersebut tidak kunjung membaik meski telah menjalani pengobatan medis.

Saat ini, teknologi instalasi pemurnian air tersebut kembali ditempatkan di wilayah terdampak bencana Aceh Tamiang, tepatnya di tepi Sungai Tamiang untuk menyedot air sungai yang keruh.

Melalui proses filtrasi, alat tersebut mampu menghasilkan air jernih dengan kapasitas hingga 7.200 liter per jam.

Air yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan sanitasi hingga dikonsumsi sebagai air minum. Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi menyampaikan apresiasi atas dukungan teknologi tersebut.

Ia mengatakan alat pemurnian air tersebut dibawa dari Bandung dengan perjalanan darat selama sekitar satu pekan menuju wilayah terdampak bencana.

“Saya berharap dengan dukungan pemerintah dan banyak pihak, kondisi di sini bisa lebih cepat pulih,” kata Armia.

Ia juga menyebut pemerintah daerah tengah menjajaki kerja sama lanjutan dengan ITB.

Saat ini sekitar 1.200 warga Kampung Sukajadi bergantung pada teknologi pemurnian air tersebut.

Air hasil filtrasi didistribusikan melalui toren-toren di permukiman warga untuk memastikan akses air bersih merata bagi masyarakat terdampak bencana.

Selain itu, sebagian warga juga datang langsung ke lokasi instalasi untuk mengambil air.

Memasuki bulan suci Ramadan, antrean warga yang membawa galon kosong kerap terlihat menjelang sore hari untuk memenuhi kebutuhan air bersih saat berbuka puasa dan sahur.

Program kemanusiaan ini merupakan hasil kerja sama Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB dengan dukungan Paragon Corp.

Inovasi IPA Mobile tersebut dikembangkan oleh tim ahli di bawah arahan Rektor ITB Tatacipta Dirgantara dengan ketua tim Bagus Budiwantoro dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB serta didukung oleh Yayasan LAPI ITB.

Dalam serah terima program tersebut, pihak Paragon diwakili oleh Dwi Eliani yang turut menyaksikan langsung distribusi air bersih bagi masyarakat di wilayah Aceh Tamiang.