Bagikan:

Iman Brotoseno menyatakan mundur dari jabatan Direktur Utama LPP TVRI. Informasi itu mencuat setelah rekaman rapat daring internal beredar, di mana Iman terdengar berpamitan dan menyampaikan keputusan pengunduran diri.

Dalam laporan sejumlah media, Iman menyebut keputusan itu telah ia bicarakan terlebih dulu dengan keluarga dan Dewan Pengawas, sambil menitip pesan agar jajaran TVRI melanjutkan capaian yang sudah berjalan.

Profil singkat Iman Brotoseno: dari ruang kreatif ke lembaga penyiaran publik

Nama Iman Brotoseno dikenal publik sebelum masuk TVRI lewat karya dan aktivitasnya di industri kreatif. Sejumlah profil media menyebut ia dikenal sebagai sutradara film, iklan, dan dokumenter, berlatar pendidikan hukum, dan pernah memperdalam studi perfilman di luar negeri.

Iman kemudian dilantik sebagai Dirut TVRI (Pengganti Antar Waktu/PAW) pada 27 Mei 2020, menggantikan Helmy Yahya.

Kontroversi

Sejak awal penunjukannya, Iman bukan hanya menghadapi tantangan manajerial lembaga penyiaran publik, tetapi juga sorotan rekam jejak digital.

1) Pernah terkait Playboy Indonesia

Salah satu polemik yang paling sering muncul adalah kabar bahwa Iman pernah menjadi kontributor Playboy Indonesia. Iman mengakui pernah terlibat, namun menegaskan tulisan yang dimuat berkaitan dengan liputan pariwisata/penyelaman dan tidak mengandung unsur pornografi.

2) Cuitan lama yang dianggap vulgar

Kontroversi berikutnya datang dari tangkapan layar cuitan lama yang kembali viral. Dalam penjelasan yang dikutip media, Iman menyampaikan bahwa kritik publik menjadi pengingat untuk memperbaiki perilaku dan narasi di ruang publik, terutama karena ia memegang jabatan publik.

Imbas polemik itu, Iman juga diberitakan menonaktifkan akun Twitter pribadinya.

3) Blog pribadi dihapus

Tak lama setelah isu cuitan, ia juga diberitakan menghapus blog pribadi dan menyatakan ingin fokus bekerja.

4) Kritik dari kelompok/komite internal-eksternal

Di saat yang sama, ada pihak yang mendesak Dewan Pengawas bertanggung jawab atas penetapan Dirut, dengan menyebut rekam jejak Iman dan dinamika proses PAW sebagai bagian dari keberatan.

Program dan capaian yang dinilai menonjol

Di luar kontroversi, periode kepemimpinan Iman juga diisi sejumlah agenda yang kerap disebut sebagai nilai plus TVRI-terutama pada arah konten dan strategi menghadapi perubahan pola konsumsi media.

Menjaga identitas TV publik: budaya dan tradisi

Dalam wawancara yang dimuat VOI, Iman menekankan posisi TVRI sebagai rumah konten yang konsisten merawat budaya dan tradisi, termasuk ruang bagi program-program yang tidak selalu menjadi menu utama TV komersial.

Percepatan adaptasi digital

TVRI dalam beberapa tahun terakhir juga gencar berbicara soal adaptasi-baik dari sisi distribusi maupun penguatan ekosistem siaran. Meski implementasinya berlangsung bertahap, “bahasa transformasi” menjadi salah satu agenda yang terus diangkat di periode kepemimpinannya.

Hak siar Piala Dunia 2026 (FTA)

Salah satu capaian yang paling mudah ditangkap publik adalah hak siar Piala Dunia 2026. TVRI diberitakan menjadi pemegang hak siar di Indonesia dan menayangkan 104 pertandingan secara gratis (free-to-air) melalui TVRI Nasional dan TVRI Sport.

Mundur setelah hampir enam tahun memimpin

Kabar pengunduran diri Iman pada 23 Februari 2026 menutup satu bab yang sejak awal memang penuh tarik-menarik: antara harapan publik pada TVRI sebagai lembaga penyiaran publik, serta beban reputasi personal yang ikut melekat pada pucuk pimpinan.

Ke depan, tantangan TVRI tinggal meneruskan hal-hal yang sudah jalan: konsistensi konten publik, adaptasi digital, dan pemanfaatan hak siar event besar agar berdampak ke kualitas layanan siaran-terlepas dari siapa figur yang duduk di kursi Dirut berikutnya.