Bagikan:

JAKARTA - Kelompok ISIS pada Hari Minggu menyatakan perang terhadap Pemerintahan Presiden Ahmad Al Shara di Suriah, menyebutnya tidak sah karena hubungannya dengan Amerika Serikat dan Turki.

Juru bicara ISIS Abu Hudhayfa Al Ansari mengatakan dalam pesan yang direkam, Suriah telah memasuki "babak baru" perjuangan, menyebut Al Shara sebagai "penguasa lalim baru" yang nasibnya "tidak akan lebih baik" daripada mantan pemimpin Bashar Al Assad.

Mantan presiden dan pendukungnya dari Iran "dengan cepat digantikan" oleh rezim yang "tunduk" kepada Washington, kata juru bicara itu, melansir The National (23/2).

Al Ansari mengatakan Al Shara telah menjadi "berikatan dengan iblis Turki dan Barat".

Eskalasi ini terjadi pada saat yang tidak menentu ketika otoritas Suriah merebut kembali kendali atas wilayah gurun yang luas di negara itu yang berisi kantong-kantong pendukung kelompok tersebut.

Wilayah tersebut, yang meliputi Provinsi Raqqa dan Deir Ezzor, serta sebagian besar Hasakah, telah dikuasai selama hampir satu dekade oleh kelompok bersenjata pimpinan Kurdi yang dikenal sebagai Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Pada Bulan November, Suriah bergabung dengan koalisi anti-ISIS pimpinan Amerika Serikat ketika Washington hampir sepenuhnya meninggalkan SDF.

Al Shara berbalik melawan ISIS pada pertengahan masa pemberontakannya, yang berakhir ketika ia memimpin kelompok Hayat Tahrir Al Sham dalam serangan 11 hari yang menggulingkan rezim Assad pada Desember 2024.

Al Ansari menggambarkan operasi 11 hari itu sebagai plot Turki yang "diarahkan" oleh Washington, menempatkan Al Shara sebagai pemimpin "boneka" yang pemerintahannya telah melancarkan perang terhadap "orang-orang beriman".

"Rezim Suriah yang baru, dengan pemerintah sekulernya dan tentara nasionalnya adalah orang-orang kafir dan murtad," kata Al Ansari, seraya menyerukan kepada pendukung ISIS untuk "berusaha memerangi mereka tanpa henti".

isis
Ilustrasi ISIS. (Wikimedia Commons/Aharan_kotogo)

Pasukan keamanan Suriah telah melancarkan beberapa operasi besar melawan ISIS di seluruh negeri, menewaskan dan menangkap puluhan anggotanya. Kelompok ekstremis ini memiliki kantong-kantong kekuatan terutama di wilayah Badia tengah, dan dekat perbatasan dengan Irak di timur.

Sejak jatuhnya rezim Assad, banyak anggota ISIS yang beroperasi di wilayah Badia telah kembali ke kampung halaman mereka di dekat kota-kota utama seperti Aleppo, Hama, dan Damaskus, kata para pejabat keamanan regional.

ISIS mengklaim bertanggung jawab atas dua serangan akhir pekan terhadap personel militer di utara dan timur negara itu. Kelompok tersebut mengatakan di media sosial Dabiq, mereka telah menyerang "seorang individu dari rezim Suriah yang murtad" di Kota Mayadin, Provinsi Deir Ezzor menggunakan pistol, dan menyerang dua personel lainnya dengan senapan mesin di kota Raqqa di utara.

Kementerian Pertahanan Suriah mengatakan seorang tentara Suriah dan seorang warga sipil tewas pada Hari Sabtu oleh "penyerang tak dikenal". Beberapa akun media sosial dan saluran Telegram yang mendukung ISIS dalam beberapa jam terakhir menyerukan peningkatan serangan menggunakan sepeda motor.

AS sendiri diketahui telah melancarkan beberapa serangan terhadap posisi ISIS di Suriah dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa di antaranya sebagai balasan atas serangan di Palmyra yang menewaskan tiga warga Amerika pada bulan Desember, yang dilakukan oleh seorang perwira Suriah yang oleh pihak berwenang digambarkan sebagai anggota ISIS.

Pengambilalihan wilayah tengah dan timur oleh pemerintah dari SDF terjadi ketika AS mengurangi kehadirannya di Suriah, meninggalkan setidaknya dua pangkalan utama.

Sebelumnya, Washington mengandalkan SDF sebagai komponen darat utama dalam perang di Suriah melawan ISIS. Namun, AS telah mendukung pengambilalihan sebagian besar wilayah kekuasaan SDF di Suriah oleh pemerintah, dan memindahkan lebih dari 5.000 tahanan ISIS di daerah tersebut ke Irak.

Banyak tahanan, beberapa di antaranya diduga memiliki hubungan dengan ISIS, melarikan diri dari kamp pengungsi dan pusat penahanan dalam peralihan kendali antara SDF dan pasukan pemerintah dalam sebulan terakhir.

Irak memberi sinyal pada Hari Minggu, mereka tidak bersedia menampung para tersangka ISIS yang dipindahkan tanpa batas waktu.

"Kehadiran mereka di Irak bersifat sementara dan mereka akan dikembalikan ke negara asal mereka," kata pejabat Irak Saeed Al Jayashi seperti dikutip oleh media resmi, mengatakan para tahanan berasal dari lebih dari 67 negara.