JAKARTA - Dua tokoh terkemuka Hamas bersaing untuk menjadi pemimpin baru dalam tahap akhir pemilihan, kata seorang pejabat senior kelompok tersebut kepada AFP Hari Minggu.
Hamas baru-baru ini menyelesaikan pembentukan Dewan Syura baru, badan konsultatif yang sebagian besar terdiri dari ulama, serta biro politik baru, kata pejabat tersebut.
"Gerakan tersebut telah menyelesaikan pemilihan internalnya di tiga wilayah dan telah mencapai tahap akhir pemilihan kepala biro politik,” kata pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang untuk berbicara di depan umum, melansir Al Arabiya dan AFP (23/2).
Ia menambahkan, persaingan untuk kepemimpinan kelompok tersebut sekarang antara Khaled Meshaal dan Khalil al-Hayya.
Sejak perang di Gaza dimulai setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel, pasukan Israel telah membunuh beberapa pemimpin gerakan tersebut, termasuk dua mantan kepala.
Sementara itu, sumber Hamas kedua mengkonfirmasi perkembangan tersebut.
Anggota dewan dipilih setiap empat tahun sekali oleh perwakilan dari tiga cabang Hamas: Jalur Gaza, Tepi Barat yang diduduki, dan kepemimpinan eksternal gerakan tersebut.
Tahanan Hamas di penjara Israel juga berhak untuk memilih.
Dewan kemudian memilih biro politik, yang pada gilirannya memilih kepala gerakan tersebut.
Sedangkan sumber Hamas ketiga mengatakan pemimpin baru hanya akan menjabat selama "satu tahun masa transisi."
Ribuan anggota Hamas memberikan suara untuk memilih dewan dan biro politik, tambah sumber tersebut, tanpa menjelaskan bagaimana pemungutan suara dilakukan.
"Tujuan utama dari proses ini adalah untuk memperbarui legitimasi internal dan mengisi kekosongan kepemimpinan," tambah sumber tersebut.
Pemimpin baru perlu menyeimbangkan antara seruan internasional, yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel, agar kelompok tersebut melucuti senjata, dan penolakan terhadap tuntutan tersebut dari sayap bersenjatanya, yang memerangi pasukan Israel di Gaza.
Namun, Hamas mengatakan akan menyerahkan senjatanya kepada otoritas Palestina di Gaza dengan syarat-syarat tertentu.
Baik Meshaal maupun al-Hayya memiliki pengalaman bertahun-tahun di dalam gerakan tersebut.
Al-Hayya (65) warga asli Gaza dan kepala negosiator Hamas dalam perundingan gencatan senjata, telah memegang peran senior setidaknya sejak tahun 2006, menurut LSM yang berbasis di AS, Counter Extremism Project (CEP).
Sementara Meshaal, yang memimpin biro politik dari tahun 2004 hingga 2017, tidak pernah tinggal di Gaza. Ia lahir di Tepi Barat pada tahun 1956.
Ia bergabung dengan Hamas di Kuwait dan kemudian tinggal di Yordania, Suriah, dan Qatar. CEP mengatakan ia mengawasi evolusi Hamas menjadi hibrida politik-militer.
Saat ini ia memimpin kantor diaspora gerakan tersebut.
Bulan lalu, sebuah sumber Hamas mengatakan kepada AFP, al-Hayya mendapat dukungan dari sayap bersenjata kelompok tersebut, Brigade Izzudin Al-Qassam.
BACA JUGA:
Setelah Israel membunuh mantan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada Juli 2024, kelompok tersebut memilih kepala Hamas Gaza saat itu, Yahya Sinwar, sebagai penggantinya.
Israel menuduh Sinwar sebagai dalang serangan 7 Oktober.
Ia juga dibunuh oleh pasukan Israel di Kota Rafah, Gaza selatan, tiga bulan setelah pembunuhan Haniyeh.
Hamas kemudian memilih komite kepemimpinan sementara beranggotakan lima orang yang berbasis di Qatar, menunda penunjukan pemimpin tunggal hingga pemilihan umum, mengingat risiko pemimpin baru tersebut menjadi sasaran Israel.