Bagikan:

JAKARTA – Pengamat pendidikan, Doni Kusuma, mendorong pelaksanaan asesmen psikologis dan pendampingan sebagai langkah preventif terulangnya perilaku guru yang mencoreng wajah pendidikan Indonesia.

Hal ini dilontarkan Doni usai terjadinya kasus guru yang tega menelanjangi puluhan siswa di Jember, Jawa Timur (Jatim).

Peristiwa miris itu terjadi saat guru berinisial F merasa kehilangan uang Rp200.000 pada Kamis, 5 Februari lalu.

Sehari berselang, uang Rp75.000 kembali raib.

Emosi memuncak, ia menggeledah tas siswa dan memaksa 22 murid membuka seluruh pakaian.

Beberapa siswi hanya menyisakan pakaian dalam.

Tindakan tersebut memicu kemarahan wali murid yang mendobrak kelas.

Kasus pun melebar. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember Arief Tjahjono membenarkan kejadian itu dan menyatakan langkah sudah diambil.

Dinas Pendidikan Jember menggandeng Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk memberikan trauma healing bagi para siswa.

Pendampingan psikologis dilakukan agar rasa malu dan takut yang membekas bisa perlahan dipulihkan.

Menurut Doni, pencegahan kasus serupa oleh tenaga pendidik tak cukup dengan sanksi setelah kejadian.

Sebab, yang perlu dibenahi bukan hanya pelakunya, tapi juga sistem pengawasannya.

“Pemerintah daerah dan pengelola swasta memberikan pendampingan dan asesmen psikologis, ketika ada guru-guru yang memiliki indikasi persoalan mental. Jadi saringan pertama ada di Pemda dan yayasan,” ujarnya, Minggu, 15 Februari.

Dia menyatakan, tes psikologis berkala untuk guru seharusnya sudah menjadi kebijakan lama. Namun, realisasinya mentok di soal anggaran.

“Dari dulu saya menganjurkan agar dilakukan tes psikologis secara berkala kepada guru, agar dapat memperoleh gambaran mental dan pola pendampingan yang baik. Masalahnya biaya tes ini mahal dan pemerintah tidak menyediakannya,” tambah Doni.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+