Bagikan:

JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi Banten mulai mematangkan rencana pembangunan MRT Jakarta lintas timur–barat fase 2 dengan rute Kembangan–Balaraja. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berharap jalur MRT tersebut bisa mulai dibangun dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Harapan itu Pramono saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Studi Potensi Kontribusi Pembangunan MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 (Kembangan–Balaraja) bersama PT MRT Jakarta dan para pengembang di sekitar trase.

Pramono menargetkan proses persiapan dan pematangan proyek bisa segera rampung sehingga konstruksi dapat dimulai dalam waktu dekat.

"Saya menaruh harapan, mudah-mudahan 1-2 tahun ke depan sudah bisa dimulai pembangunannya. Kalau itu bisa dilakukan, Saudara-saudara sekalian, akan sangat baik bagi Jakarta sendiri, bagi Banten, dan tentunya bagi transportasi yang ada di Indonesia," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 4 Desember.

Ia menjelaskan, kerja sama ini membuat pengembangan kawasan TOD (transit oriented development) tidak lagi menjadi beban tunggal MRT Jakarta karena akan dikerjakan bersama para pengembang. Skema tersebut diharapkan menciptakan hubungan saling menguntungkan antara pemerintah daerah, pengembang, dan operator MRT.

Lebih lanjut, Pramono menyinggung pengalaman pembangunan MRT lintas utara–selatan yang melibatkan berbagai lembaga internasional dan Kementerian Keuangan. Pola kerja sama serupa, kata dia, akan diterapkan pada pengembangan MRT fase 2 Kembangan–Balaraja, termasuk dalam aspek studi dan pendanaan.

Ia juga menekankan besarnya kebutuhan transportasi massal di kawasan aglomerasi Jakarta dan sekitarnya. Berdasarkan data PBB, jumlah penduduk kawasan aglomerasi Jabodetabek mencapai 42 juta jiwa.

"Hampir semua trase itu di Jakarta sebenarnya sudah promising, menjanjikan untuk bisa dikembangkan. Karena apa? Aglomerasinya sudah 42 juta, ini data dari PBB. Jakarta sendiri 11 juta. Orang yang masuk di Jakarta setiap hari 4,5 juta, dan mereka butuh transportasi," urai Pramono.

Sementara itu, Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menyebut lintas timur–barat sebagai koridor strategis yang menghubungkan kawasan hunian, kawasan industri, dan pusat-pusat pertumbuhan baru di Jakarta dan Banten.

“Lintas timur-barat ini merupakan koridor yang sangat strategis yang menghubungkan kawasan hunian, kawasan industri, serta pusat pertumbuhan baru di Jakarta, DKI Jakarta, dan Provinsi Banten,” ujar Tuhiyat.

Menurut dia, hasil studi ini diharapkan dapat membantu Kementerian Perhubungan dalam perencanaan kelembagaan dan keuangan proyek lintas timur–barat fase 2 sepanjang sekitar 30 kilometer dari Kembangan menuju Balaraja.

Di sisi lain, Gubernur Banten Andra Soni menilai kerja sama ini menjadi solusi sistem transportasi massal terintegrasi yang berdampak langsung bagi warga Banten, khususnya mereka yang setiap hari beraktivitas di Jakarta.

"Kami berbatasan langsung dengan Ibu Kota, dan warga kami sebagian besar itu bekerja di Jakarta. Dan kemudian pada malam hari mereka kembali ke Banten, dan pada jam-jam tersebut maka kemacetan terjadi juga di tempat kami," ungkap Soni.

Soni berharap kehadiran MRT lintas timur–barat dapat mengurangi beban jalan di Jakarta dan Banten sekaligus mendorong perubahan gaya hidup masyarakat menuju penggunaan transportasi massal. "Bilamana terjadinya terlaksananya rencana ini, mudah-mudahan ini akan mengurangi beban jalan Jakarta dan jalan Banten," tutupnya.