JATENG – Upaya memperkuat kemandirian pesantren terus dilakukan Pondok Pesantren Darusy Syahadah, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, melalui kegiatan Seminar dan Peningkatan Kemampuan Menuju Ponpes Darusy Syahadah Berkelanjutan. Program yang berlangsung hingga Kamis, 5 Februari 2026 ini difasilitasi oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melalui Satgaswil Jawa Tengah.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pemberdayaan yang menitikberatkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penguatan ekonomi produktif pesantren. Santri dan pengelola pesantren dibekali berbagai keterampilan praktis yang dapat dikembangkan sebagai unit usaha berkelanjutan.
Kasatgaswil Jawa Tengah Densus 88 Polri, Kombes Pol. Choirul Anam, menjelaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan sosial masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak semata berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga pada penguatan kapasitas dan kemandirian komunitas pesantren.
“Kami ingin pesantren memiliki bekal keterampilan yang relevan, sehingga santri tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mandiri secara ekonomi,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan Kementerian Pertanian serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Materi pelatihan yang diberikan mencakup penanaman dan pengolahan kopi, pelatihan barista, keterampilan pangkas rambut (barbershop), hingga manajemen peternakan kambing perah.
Choirul Anam menambahkan, kegiatan ini dirancang sebagai pendekatan lunak (soft approach) yang berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan sosial, menciptakan lingkungan yang inklusif, serta mendorong eks narapidana terorisme agar dapat kembali berperan produktif di tengah masyarakat.
BACA JUGA:
Pimpinan Ponpes Darusy Syahadah, Ustadz Qosdi Ridwanullah, menilai program tersebut sangat relevan dengan kebutuhan pesantren, khususnya dalam memperkuat unit usaha sebagai penopang keberlanjutan operasional.
“Pelatihan ini memberikan pengetahuan yang aplikatif dan bisa langsung dikembangkan. Antusiasme guru dan santri sangat tinggi,” katanya.
Saat ini, Ponpes Darusy Syahadah membina lebih dari 300 anak yatim dan dhuafa, dengan seluruh kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari ditanggung oleh pesantren. Penguatan kemandirian ekonomi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pembinaan sosial tersebut.
Melalui program pemberdayaan ini, Ponpes Darusy Syahadah diharapkan mampu menjadi contoh pesantren yang mandiri secara ekonomi, sekaligus berkontribusi dalam penguatan moderasi beragama dan kebhinekaan di Jawa Tengah.