Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah Indonesia mendorong percepatan repatriasi karya Raden Saleh dari Belanda dalam pertemuan bilateral Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Gouke Moes, di Den Haag, Kamis, 29 Januari 2026.

Pertemuan berlangsung di sela International Film Festival Rotterdam (IFFR) yang menampilkan film Indonesia. Fadli mengapresiasi ruang bagi sineas nasional dan mengusulkan agenda “Indonesia Focus” pada edisi mendatang. “Festival ini membuka jalur diplomasi budaya melalui film. Kami ingin keterlibatan Indonesia makin kuat,” kata Menbud Fadli Zon di Den Haag, Kamis, 29 Januari.

Kedua negara menegaskan kelanjutan Perjanjian Ko-produksi Audiovisual Indonesia–Belanda yang diteken Desember 2024 dan kini dalam proses ratifikasi. Penguatan talenta juga dijalankan lewat SAMASAMA Lab yang melibatkan Netherlands Film Fund, Manajemen Talenta Nasional, dan APROFI.

Fadli menekankan akses arsip Belanda terkait sejarah Indonesia. Kerja sama diarahkan pada digitalisasi, penelitian, restorasi film, hingga pameran bersama dengan institusi seperti Eye Film Museum dan KITLV.

Isu repatriasi menjadi sorotan. Fadli mengapresiasi pendekatan cultural and historical justice Belanda, termasuk pengembalian koleksi Dubois. Indonesia kini mendorong percepatan pemulangan 37 objek Warisan Budaya Bersifat Kebendaan (WBBK) yang telah direkomendasikan oleh Colonial Collection Committee (CCC), komite independen penasihat Pemerintah Belanda dalam pengembalian koleksi kolonial. Usulan itu mencakup karya dan peninggalan Raden Saleh. “Repatriasi ini bagian pemulihan sejarah seni dan identitas budaya Indonesia,” tegasnya dalam keterangan tertulis yang diteria VOI, 30 Januari.

Indonesia juga meminta dukungan Belanda untuk pencalonan sebagai anggota Komite ICH UNESCO periode berikutnya. Pertemuan ini mempertegas arah kerja sama budaya kedua negara dari film hingga pemulihan warisan sejarah.