Bagikan:

JAKARTA - Bayer Indonesia (Bayer) menegaskan komitmen jangka panjangnya untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia melalui dukungan akses benih jagung berkualitas tinggi serta pendampingan teknis kepada petani guna meningkatkan produksi jagung di Jawa Tengah, wilayah penghasil jagung terbesar kedua di Indonesia.

Sebagai wujud nyata, Bayer bersama 800 petani dari berbagai kelompok tani, camat, lurah, dinas pertanian dan Gapoktan, melaksanakan panen jagung varietas hibrida Dekalb DK19C ”Cantik” dan DK79C “Kuat” di Kabupaten Grobogan dan Kendal, Jawa Tengah.

Baik Grobogan maupun Kendal, berperan strategis dalam mendukung misi swasembada jagung nasional, yang merupakan bagian dari swasembada pangan, salah satu prioritas dalam program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Cluster Lead East Asia & Pakistan Bayer Crop Science, Mateus Barros, mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu pasar pertanian penting di kawasan Asia. “Petani jagung berada di jantung upaya peningkatan produksi pangan. Akses terhadap teknologi benih yang andal serta praktik budidaya yang tepat sangat penting untuk menjaga produktivitas secara berkelanjutan,” kata Mateus dalam kegiatan panen tersebut.

Adapun hasil panen varietas Dekalb DK19C ”Cantik” dan DK79C “Kuat” di Grobogan dan Kendal meningkat sebesar 15 persen yang spontan menaikkan pendapatan petani sebesar 20 persen per musim tanam. Sementara terkait total produksinya mencapai 6–7 ton per hektare, melampaui rata-rata produksi nasional sebesar 5,93 ton per hektare.

Kedua varietas tersebut dikembangkan untuk menjawab kebutuhan agroekologi yang berbeda. Varietas Dekalb DK19C “Cantik” pertama kali diperkenalkan pada akhir 2024, memiliki umur panen sekitar 105 hari dan dikenal dengan stabilitas hasil panennya. Sementara DK79C “Kuat” diluncurkan pada kuartal ketiga tahun 2025, dirancang untuk lahan kering dan wilayah berbukit dengan umur panen sekitar 100 hari.

Selain penggunaan benih, Bayer juga menjalankan program pendampingan teknis secara komperhensif, termasuk pelatihan teknik budidaya, pengendalian hama dan penyakit, hingga pemanfaatan platform pertanian digital.

Country Commercial Lead Bayer Crop Science Indonesia dan Malaysia, Yuchen Li, menekankan bahwa peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada varietas benih semata. “Benih berkualitas tinggi harus didukung dengan pendampingan teknis yang konsisten, akses informasi, serta praktik pertanian yang lebih baik untuk memastikan produktivitas berkelanjutan,” tuturnya.

Inisiatif pendampingan Bayer mencakup ekosistem Better Life Farming bagi petani kecil, pusat riset dan pelatihan pertanian di Klaten, Jawa Tengah, serta komunitas SOBAT (Sahabat dan Penasihat Petani) Bayer yang kini beranggotakan lebih dari 1.000 orang di seluruh Indonesia. Petani juga mendapatkan dukungan melalui platform edukasi digital TANIA (Teman Petani Indonesia) untuk berbagi pengetahuan dan berdiskusi langsung mengenai praktik pertanian.

H.Zakaria, petani jagung asal Kecamatan Gemuh, Kendal, mengaku merasakan manfaat dari program tersebut. Dia mengatakan hasil panennya menjadi lebih stabil setelah mengikuti program demoplot dan pendampingan teknis dari Bayer. “Saya bisa melihat perbedaannya langsung di demoplot. Dari cara tanam, pemupukan, sampai pengendalian hama. Hasilnya lebih bagus dan konsisten,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Kusnandar, petani dari Kecamatan Brati, Grobogan. “Sulit kalau hanya mengandalkan teori, tapi begitu melihat tanaman tumbuh bagus di lapangan, baru benar-benar percaya,” katanya.

Seiring dengan terus meningkatnya produksi, Jawa Tengah diperkirakan akan tetap menjadi salah satu pilar utama pasokan jagung nasional dalam beberapa tahun ke depan. Tantangan ke depan tide hanya terletak pada peningkatan hasil panen, tetapi juga pada efisiensi biaya produksi serta penguatan ketahanan petani terhadap perubahan iklim.