Bagikan:

JAKARTA - Pertahanan sipil Gaza, Palestina mengalami wabah penyakit serius di antara para pekerjanya setelah gencatan senjata 10 Oktober antara Israel dan Hamas mengubah fokusnya dari penyelamatan korban selamat dari pemboman Israel menjadi evakuasi jenazah yang terjebak di reruntuhan selama dua tahun perang.

Penyakit pernapasan dan pencernaan telah menyebar luas di antara personel yang terlibat dalam operasi evakuasi jenazah dalam beberapa minggu terakhir, kata Mohammad Al Midna, direktur hubungan masyarakat pertahanan sipil.

"Awalnya, kami mengira ini adalah penyakit musim dingin biasa. Tetapi penyakit itu tidak kunjung hilang," kata Al Midna kepada The National, seperti dikutip, Kamis 22/1).

"Tes dan konsultasi menunjukkan adanya hubungan antara penyakit tersebut dan pekerjaan evakuasi jenazah yang membusuk. Tim kami terpapar bakteri dan kontaminan berbahaya, terutama tanpa peralatan keselamatan yang memadai," lanjutnya.

Penanganan jenazah yang membusuk tanpa tindakan pencegahan dan peralatan yang tepat dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan yang serius, termasuk penyakit menular melalui darah yang berbahaya, kata Dr. Ayman Abu Rahma, direktur pengobatan preventif di Kementerian Kesehatan Gaza.

"Dengan prosedur dan peralatan yang tepat, risiko ini dapat dikurangi. Tetapi Gaza kekurangan sarung tangan, masker, kacamata pelindung, pakaian tahan cairan, dan disinfektan," kata Dr. Abu Rahma.

"Selama lebih dari dua tahun, blokade (Israel) telah mencegah masuknya peralatan ini, sehingga menyebabkan kekurangan yang parah," tambahnya

Mahmoud Bassal, juru bicara pertahanan sipil, mengatakan timnya dan sukarelawan lokal terus bekerja untuk menemukan jenazah meskipun kekurangan peralatan pelindung, sering kali melakukan kontak fisik langsung dengan jenazah.

"Kami telah mendokumentasikan banyak kasus pekerja yang jatuh sakit setelah operasi ini," kata Bassal, yang memperkirakan bahwa sebanyak 10.000 jenazah belum ditemukan.

"Mereka mengalami demam tinggi, kelelahan, sakit kepala, dan gejala lainnya. Meskipun kami kekurangan kapasitas untuk studi medis lengkap, para spesialis mengkonfirmasi bahwa paparan bakteri dan gas beracun tanpa perlindungan dapat menyebabkan penyakit serius," tandasnya.

Setidaknya satu anggota pertahanan sipil, yang termasuk yang paling aktif dalam pekerjaan evakuasi jenazah, telah dipastikan meninggal sebagai akibat langsung, kata Mohammed Al Mughayir, direktur dukungan kemanusiaan di pertahanan sipil.

"Dokter sepakat bahwa penyakit darahnya berasal dari paparan konstan terhadap kontaminan biologis," jelas Al Mughayir.

"Kami tidak memiliki detektor gas, masker khusus, helm yang layak, atau alas kaki pelindung. Apa yang kami miliki berkualitas rendah dan tidak memenuhi standar keselamatan," tambahnya.

Seorang pekerja pertahanan sipil lainnya, Qusay Sarsour, telah menderita penyakit ginjal selama tiga bulan yang menurut dokter disebabkan oleh menghirup gas beracun selama operasi evakuasi.

"Sejak awal perang, kami telah bekerja tanpa alat pelindung, dalam kondisi yang sangat keras," jelas Sarsour.

"Saya sering merasa dada saya tertekan, seperti sedang sesak napas," lanjutnya.

"Seorang rekan kerja meninggal karena penyakit darah, dan yang lain mengalami infeksi perut atau masalah pernapasan. Ketika kami pergi untuk mengambil jenazah agar dapat dimakamkan dengan layak, kami mempertaruhkan nyawa kami sendiri," tandasnya.

Terpisah, sumber medis di Gaza mengatakan sedikitnya 477 orang tewas, 1.301 luka-luka dan 713 jenazah berhasil dievakuasi dari reruntuhan, sejak kesepakatan gencatan senjata di Gaza berlaku 10 Oktober 2025 seperti dikutip dari WAFA.

Total, jumlah korban tewas Palestina akibat agresi Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 71.562, sementara 171.379 lainnya terluka sejak konflik terbaru pecah pada 7 Oktober 2023.