JAKARTA - Rutan Kelas I Jakarta Pusat atau Rutan Salemba melaksanakan panen raya serentak bersama sejumlah warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau narapidana.
Kepala Kanwil Ditjenpas Jakarta, Heri Azhari, mengatakan hasil panen raya alam dijual dan hasilnya akan disumbangkan untuk daerah terdampak bencana Aceh dan Sumatera Barat.
"Ada lagi tambahan dari penjualan UMKM yang total jumlahnya lebih dari Rp15 juta," kata Heri, Jumat, 16 Januari 2026.
Heri melanjutkan panen raya serentak ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi pola kerja berkelanjutan.
"Melalui bimbingan kerja yang terukur, warga binaan diharapkan memiliki bekal keterampilan yang mumpuni untuk berintegrasi kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang produktif," katanya.
BACA JUGA:
Sementara itu, Kepala Rutan Kelas I Jakarta Pusat, Wahyu Trah Utomo, mengatakan panen raya serentak ini juga merupakan bagian dari program akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Kegiatan tersebut dilakukan serentak dan dibuka oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.
"Warga binaan Rutan Kelas I Jakarta Pusat saat ini berhasil memanen ikan nila hitam sebanyak 70 kilogram, ikan lele 55 kilogram, dan ikan nila merah 15 kilogram," kata Wahyu.
Selain ikan, panen sayuran sebanyak 30 kilogram juga dilakukan. Sayuran kangkung dan caisim organik dipanen mencapai 30 kilogram.
Menurut Wahyu, hasil dari panen ini sebagian diolah menjadi ikan bumbu kuning siap masak yang kemudian dipasarkan untuk kalangan umum.
"Program kemandirian bagi para warga binaan Rutan Kelas I Jakarta Pusat ini diharap dapat menambah pengalaman serta kemampuan baru dalam bercocok tanam dan budidaya ikan yang dapat digunakan ketika nanti sudah bebas kembali ke masyarakat," katanya.
Panen raya ini dilakukan di sarana asimilasi dan edukasi Rutan Kelas I Jakarta Pusat. Kegiatan juga dihadiri Kepala Kanwil Ditjenpas DK Jakarta, Heri Azhari, serta seluruh Kepala UPT Ditjenpas DK Jakarta dan Sudin KPKP Jakarta Pusat.
Kegiatan ini menjadi simbol keberhasilan pembinaan kemandirian warga binaan di tengah keterbatasan lahan.