Bagikan:

JAKARTA - China menyerukan kepada Amerika Serikat untuk mematuhi Piagam PBB dan menahan diri dari penggunaan kekerasan terhadap Iran, untuk mencegah bencana di kawasan tersebut.

Hal ini disampaikan Sun Lei, Kuasa Usaha ad interim Misi Tetap China untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Tindakan militer apa pun hanya akan mendorong kawasan ini ke jurang. Kami dengan tegas menyerukan kepada Amerika Serikat untuk mematuhi tujuan dan prinsip-prinsip Piagam PBB dan meninggalkan gagasan tetap mereka untuk menggunakan kekerasan. Kami juga menyerukan kepada semua pihak untuk menunjukkan pengekangan," kata diplomat China tersebut selama pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang Iran dilansir TASS, Jumat, 16 Januari.

Ia menekankan perlunya upaya bersama dari semua pihak untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional.

Diberitakan sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta Presiden AS Donald Trump untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran. Kabar ini dilaporkan The New York Times, mengutip seorang pejabat senior AS.

Menurut sumber surat kabar tersebut, Netanyahu berbicara dengan pemimpin AS pada 14 Januari. Surat kabar itu melaporkan Trump mengatakan pada Rabu, dia telah menerima informasi dari "sumber yang sangat penting di pihak lain" tentang meredanya ketegangan di Iran. "Hal itu tampaknya menandakan Trump mundur dari potensi serangan AS terhadap Iran," tulis The New York Times.

Saluran TV Al Mayadeen sebelumnya melaporkan AS telah mundur dari rencana untuk menyerang Iran setelah menilai potensi konsekuensinya.

Dilansir TASS, Jumat, 16 Januari, AFP melaporkan Arab Saudi, Qatar, dan Oman telah membujuk Donald Trump untuk tidak menyerang Iran, membujuknya untuk memberi Teheran kesempatan untuk menunjukkan niat baik. Monarki-monarki Teluk memperingatkan Washington tentang "dampak buruk yang serius di kawasan itu" jika terjadi eskalasi, kata kantor berita tersebut.

Kerusuhan di Iran dimulai pada 29 Desember setelah protes jalanan yang disebabkan oleh devaluasi rial, dan menyebar ke sebagian besar kota besar.

Pemerintah mengatakan sekitar 40 petugas penegak hukum telah tewas. Pada 8 Januari, menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, teroris bersenjata muncul di antara para demonstran. Iran menyalahkan Israel dan Amerika Serikat karena mengorganisir kerusuhan tersebut.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan ia serius mempertimbangkan untuk menggunakan kekerasan terhadap Republik Islam Iran.