Bagikan:

JAKARTA - Kremlin mengatakan pada Hari Kamis, Rusia setuju dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, bahwa Presiden Volodymyr Zelensky, bukan Rusia, yang menghambat potensi kesepakatan perdamaian untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Penilaian Presiden Trump dalam sebuah wawancara dengan Reuters bertentangan dengan pendapat sekutu Eropa, yang secara konsisten berpendapat Moskow kurang tertarik untuk mengakhiri pertempuran dan ingin merebut wilayah sebanyak mungkin sambil berusaha menghindari sanksi Barat lebih lanjut.

"Saya pikir dia siap untuk membuat kesepakatan," kata Trump tentang Putin ketika berbicara kepada Reuters di Ruang Oval, seperti dikutip (15/1).

"Saya pikir Ukraina kurang siap untuk membuat kesepakatan," tandasnya.

Ketika ditanya mengapa negosiasi yang dipimpin AS belum menyelesaikan konflik darat terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua, Trump menjawab: "Zelensky."

Komentar Presiden Trump menunjukkan frustrasi yang kembali muncul terhadap pemimpin Ukraina. Kedua presiden telah lama memiliki hubungan yang bergejolak, meskipun interaksi mereka tampaknya telah membaik selama tahun pertama Presiden Trump kembali menjabat.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada wartawan ketika ditanya apakah ia setuju dengan Trump: "Saya setuju, memang demikian adanya. Presiden Putin dan pihak Rusia tetap terbuka (untuk berunding)."

"Posisi Rusia sudah diketahui dengan baik. Hal itu sudah diketahui oleh para negosiator Amerika, Presiden Trump, dan pimpinan rezim Kyiv," tandas Peskov.

Rusia menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina, termasuk Semenanjung Krimea, yang dianeksasi pada tahun 2014. Moskow ingin Kyiv menarik pasukannya dari sebagian wilayah Donetsk yang tidak dikuasai Rusia tetapi telah diklaim sebagai wilayahnya.

Ukraina - yang telah menolak gagasan untuk memberikan wilayah kepada Moskow - ingin pertempuran dihentikan di sepanjang garis depan saat ini. AS telah mengusulkan zona ekonomi bebas jika Ukraina menarik pasukannya.

Negosiasi yang dipimpin AS dalam beberapa pekan terakhir berpusat pada jaminan keamanan untuk Ukraina pasca-perang setelah potensi kesepakatan damai, meskipun beberapa pejabat Eropa telah memperingatkan bahwa Putin sangat tidak mungkin menerima beberapa persyaratan tersebut.

Pembicaraan semakin terhambat setelah Rusia menuduh Ukraina bulan lalu mencoba menyerang kediaman Presiden Putin, tuduhan yang oleh Kyiv disebut sebagai kebohongan.

Peskov mengatakan, Moskow akan menyambut utusan Trump, Steve Witkoff, dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner, ke Kremlin untuk pembicaraan lebih lanjut tentang Ukraina setelah tanggal kunjungan disepakati.

Presiden Trump sendiri mengatakan kepada Reuters, Ia tidak mengetahui adanya kemungkinan kunjungan Witkoff dan Kushner ke Moskow, yang sebelumnya dilaporkan oleh Bloomberg pada Hari Rabu.