JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Hari Rabu, tokoh oposisi Iran Reza Pahlavi, "tampak sangat baik" tetapi menyatakan ketidakpastian apakah Pahlavi akan mampu mengumpulkan dukungan di dalam Iran untuk akhirnya mengambil alih kekuasaan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Reuters di Ruang Oval, Presiden Trump mengatakan ada kemungkinan pemerintahan ulama Iran dapat runtuh.
Ia diketahui telah berulang kali mengancam akan campur tangan untuk mendukung para pengunjuk rasa di Iran, di mana ribuan orang dilaporkan tewas dalam penindakan terhadap kerusuhan melawan pemerintahan ulama.
Tetapi, Presiden Trump pada Hari Rabu belum memberikan dukungan penuhnya kepada Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, yang digulingkan dari kekuasaan pada tahun 1979.
"Dia tampak sangat baik, tetapi saya tidak tahu bagaimana dia akan berperan di negaranya sendiri," kata Presiden Trump, melansir Reuters (15/1).
"Dan kita sebenarnya belum sampai pada titik itu," lanjutnya.
"Saya tidak tahu apakah negaranya akan menerima kepemimpinannya atau tidak, dan tentu saja jika mereka menerimanya, itu akan baik-baik saja bagi saya," tandas Presiden Trump.
Komentar Presiden Trump lebih jauh mempertanyakan kemampuan Pahlavi untuk memimpin Iran, setelah pekan lalu Ia mengatakan tidak memiliki rencana untuk bertemu dengannya.
Pahlavi (65), yang berbasis di AS, telah tinggal di luar Iran sejak sebelum ayahnya digulingkan dalam Revolusi 1979 dan telah menjadi suara terkemuka dalam protes.
Oposisi Iran terfragmentasi di antara kelompok-kelompok yang bersaing dan faksi-faksi ideologis - termasuk kaum monarkis yang mendukung Pahlavi - dan tampaknya memiliki sedikit kehadiran terorganisir di dalam Iran.
Menggemakan kehati-hatian Presiden Trump, Wakil Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara Chatham House Sanam Vakil mengatakan, Pahlavi telah mendapatkan popularitas di antara beberapa demonstran dan telah membantu memobilisasi mereka sampai batas tertentu.
"Tapi saya tidak akan melebih-lebihkannya," katanya.
"Sangat sulit untuk melihat seberapa besar dukungan yang dia miliki atau seberapa besar dukungan yang dimiliki tokoh mana pun di Iran," jelasnya.
Presiden Trump mengatakan ada kemungkinan pemerintah di Teheran bisa jatuh karena protes, tetapi sebenarnya "rezim mana pun bisa gagal."
"Apakah itu akan jatuh atau tidak, itu akan menjadi periode waktu yang menarik," katanya.
BACA JUGA:
Diketahui, Iran menjadi lokasi protes yang meluas di 31 provinsinya, salah satu tantangan terbesar bagi rezim ulama yang berkuasa dalam lebih dari satu dekade, yang pecah di Grand Bazaar Tehran pada 28 Desember. Kerusuhan telah berkembang dari keluhan tentang situasi ekonomi Iran yang buruk menjadi seruan untuk perubahan rezim.
Para pejabat pemerintah Iran menuduh AS dan Israel mendukung apa yang mereka sebut sebagai "kerusuhan" dan "terorisme" di tengah protes yang sedang berlangsung.
Kemarin, Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS mengonfirmasi kematian 2.403 demonstran, termasuk 12 anak-anak, dalam pernyataan terbarunya, dikutip dari The National.
Di sisi lain dikatakan sekitar 147 personel keamanan dan pendukung pemerintah juga tewas, serta sembilan warga sipil, sehingga totalnya menjadi 2.559.