JAKARTA - Presiden Donald Trump mengatakan pada Hari Kamis, Amerika Serikat akan menghantam Iran "sangat keras" jika negara itu mulai membunuh demonstran, saat negara tersebut telah diguncang oleh protes sejak bulan lalu terkait memburuknya kondisi ekonomi.
"Jika mereka mulai membunuh orang, yang cenderung mereka lakukan selama kerusuhan mereka, mereka sering melakukan kerusuhan. Jika mereka melakukannya, kami akan menghantam mereka sangat keras," kata Presiden Trump dalam wawancara dengan Hugh Hewitt Show, melansir Anadolu (9/1).
"Mereka telah diberi tahu dengan sangat tegas, bahkan lebih tegas daripada yang saya sampaikan kepada Anda sekarang, bahwa jika mereka melakukan itu, mereka akan menanggung akibatnya,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance mengatakan Negeri Paman Sam mendukung demonstran damai di seluruh dunia, termasuk di Iran.
"Kami tentu saja mendukung siapa pun yang terlibat dalam protes damai yang memperjuangkan hak-hak mereka," katanya kepada wartawan dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Ia menekankan pentingnya negosiasi tentang program nuklir Iran, menambahkan "hal paling cerdas" bagi Teheran adalah "negosiasi nyata" dengan AS mengenai program nuklirnya.
Protes di Iran pecah pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran, jantung kegiatan bisnis ibu kota, terkait depresiasi tajam rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Rial baru-baru ini merosot melewati 1.350.000 terhadap dolar. Demonstrasi kemudian menyebar ke beberapa kota lain.
BACA JUGA:
Pihak berwenang Iran belum merilis angka resmi tentang korban jiwa, tetapi Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) mengatakan dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Rabu, menandai hari ke-11 protes, bahwa setidaknya 38 orang tewas, termasuk empat anggota pasukan keamanan.
Kantor berita tersebut juga melaporkan puluhan orang terluka dan 2.217 penangkapan.
Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa jumlah petugas polisi yang terluka selama protes meningkat menjadi 568 orang, sementara 66 anggota pasukan paramiliter Basij juga terluka.