Bagikan:

JAKARTA - Perdana Menteri Greenland pada Hari Selasa mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin Eropa dan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) atas dukungan mereka, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengklaim wilayah otonom Denmark tersebut dan menyerukan pembicaraan dengan pemerintahan AS.

Intervensi militer AS di Venezuela telah menghidupkan kembali rencana lama Presiden Trump atas wilayah otonom Denmark di Arktik, yang memiliki cadangan mineral langka yang belum dimanfaatkan dan dapat menjadi pemain vital karena pencairan es kutub membuka jalur pelayaran baru.

Namun, di tengah klaim berulang dari Pemimpin AS dan rombongannya dalam beberapa hari terakhir, Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen kembali menegaskan, Greenland tidak untuk dijual dan hanya warga Greenland yang berhak menentukan masa depannya.

Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, dan Spanyol sebelumnya bergabung dengan Denmark dalam menyatakan mereka akan membela "prinsip-prinsip universal" "kedaulatan, integritas teritorial, dan tidak dapat diganggu gugatnya perbatasan."

"Dukungan ini penting pada saat prinsip-prinsip internasional fundamental sedang ditantang," tulis PM Nielsen di media sosial, melansir Al Arabiya dari AFP (7/1).

"Untuk dukungan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya yang terdalam," lanjutnya.

Pernyataan bersama para pemimpin Eropa menyebut keamanan Arktik sebagai "prioritas utama" bagi benua tersebut dan "kritis" bagi keamanan internasional dan transatlantik.

Denmark, termasuk Greenland, adalah bagian dari NATO, tambah pernyataan itu, mendesak pendekatan kolektif bersama Amerika Serikat untuk keamanan di wilayah kutub.

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez.

Amerika Serikat adalah "mitra penting dalam upaya ini," kata mereka, menambahkan: "Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland, dan merekalah yang berhak memutuskan masalah yang menyangkut Denmark dan Greenland."

"Pada saat Presiden Amerika Serikat sekali lagi menyatakan Amerika Serikat sangat serius tentang Greenland, dukungan dari sekutu kita di NATO ini sangat penting dan tidak dapat disangkal," tandasnya.

Washington sudah memiliki pangkalan militer di Greenland, yang merupakan rumah bagi sekitar 57.000 orang.

Sebelumnya, Presiden Trump mengindikasikan pada Hari Minggu, keputusan tentang Greenland mungkin akan diambil "dalam waktu sekitar dua bulan", setelah situasi di Venezuela mereda.

PM Nielsen mengulangi seruannya kepada Amerika Serikat untuk "dialog yang penuh hormat melalui saluran diplomatik dan politik yang tepat, dan melalui penggunaan forum yang ada berdasarkan perjanjian yang sudah ada dengan Amerika Serikat."

"Dialog tersebut harus dilakukan dengan menghormati fakta bahwa status Greenland didasarkan pada hukum internasional dan prinsip integritas teritorial," katanya.