Bagikan:

JAKARTA - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan Galeri Cagar Budaya Peringkat Nasional Gereja Immanuel Jakarta, Minggu (21/12). Peresmian ini menegaskan arah baru pelestarian cagar budaya, tidak hanya dilindungi, tetapi dimanfaatkan secara berkelanjutan sebagai ruang edukasi publik.

Galeri yang berada di lantai dua GPIB Immanuel itu diresmikan menjelang Natal 2025 dan menjadi bagian dari upaya merawat bangunan bersejarah yang telah menjadi saksi perjalanan panjang bangsa.

“GPIB Immanuel ini pada dasarnya adalah living museum. Sebuah karya arsitektur hebat sekaligus rumah ibadah yang sarat nilai sejarah,” ujar Fadli Zon.

Menurut Fadli, pelestarian tidak cukup berhenti pada perlindungan fisik bangunan. Pemanfaatan ruang sejarah harus terus dilakukan agar tercipta ekosistem pelestarian yang hidup dan berkelanjutan.

“Cagar budaya nasional seperti GPIB Immanuel memiliki memori kolektif yang panjang. Ia menjadi saksi berbagai peristiwa penting bangsa,” katanya.

Penataan galeri dilakukan melalui riset koleksi dan sejarah dengan melibatkan kurator, arkeolog, sejarawan, dan arthandler profesional. Galeri ini menyajikan narasi sejarah dan koleksi yang merekam perjalanan Gereja Immanuel selama berabad-abad.

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pelestarian cagar budaya.

“Kami berharap sinergi ini terus berlanjut, khususnya dalam konservasi cagar budaya di Jakarta,” ujarnya.

Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Jakarta, Abraham Ruben Persang, menegaskan bahwa pembangunan galeri ini bukan semata untuk kepentingan jemaat.

“Ini untuk Indonesia. Ketika kita menghargai sejarah dan menempatkannya secara benar, masa depan bangsa juga akan berjalan dengan benar,” katanya.

Ketua Majelis Sinode GPIB, Nitis Putrasana Harsono, menambahkan bahwa benda-benda bersejarah di Gereja Immanuel merupakan bagian dari perjalanan bangsa dan iman yang terus berbicara lintas generasi.

Gereja Immanuel Jakarta dibangun pada 1834–1839 dengan nama Willemskerk. Bangunan ini sempat digunakan tentara Jepang dan setelah kemerdekaan berganti nama menjadi Gereja Immanuel, sekaligus menjadi simbol toleransi dan persaudaraan di Jakarta.

Hadir dalam peresmian antara lain Wali Kota Jakarta Pusat Arifin, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Direktur Warisan Budaya I Made Dharma Suteja, serta jajaran pimpinan GPIB.

Menutup sambutannya, Fadli Zon menyatakan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk memperluas pendataan dan penguatan narasi sejarah gereja-gereja cagar budaya nasional sebagai ruang edukasi, toleransi, dan inspirasi publik.