Bagikan:

JAKARTA - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah menyetujui kesepakatan energi terbesar dalam sejarah Israel senilai 34,7 miliar dolar AS (USD) dengan negara tetangganya, Mesir.

Pengumuman kesepakatan itu disampaikan dalam video pidato Netanyahu bersama Menteri Energi Israel, Eli Cohen pada Rabu waktu setempat.

“Kesepakatan ini dengan perusahaan Amerika Chevron, dengan mitra Israel yang akan memasok gas ke Mesir,” kata Netanyahu, dikutip dari Timesofisrael, Kamis 18 Desember.

Netanyahu mengatakan bahwa kesepakatan gas alam dengan Mesir bernilai 34,7 miliar dolar AS, di mana 18 miliar dolar AS akan masuk ke kas negara Israel.

Dalam empat tahun pertama, lanjut dia, sekitar 500 juta shekel Israel (atau sekitar 155 juta dolar AS akan masuk ke kas negara Israel, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 6 miliar shekel Israel atau 1,9 miliar dolar AS pada tahun 2033.

Menteri Energi Eli Cohen, yang hadir selama pidato tersebut, mengatakan itu adalah “kesepakatan ekspor terbesar dalam sejarah negara.”

Netanyahu mengatakan uang yang masuk ke kas negaranya tersebut akan dimanfaatkan untuk “memperkuat pendidikan, perawatan kesehatan, infrastruktur, keamanan, dan masa depan generasi mendatang,” serta memperkuat “status Israel sebagai kekuatan energi regional.

Ilustrasi jalur pipa gas darat yang juga dimiliki Rusia. (Unsplash-Mike Benna)

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Rabu malam, CEO NewMed, Yossi Abu, mengatakan bahwa ini adalah “hari bersejarah bagi sektor gas alam, yang menjamin investasi berkelanjutan di Israel dan menciptakan stabilitas regulasi untuk tahun-tahun mendatang.”

Namun, LSM Israel, Gerakan untuk Pemerintahan Berkualitas, yang mengadvokasi transparansi negara terkait kebijakan, mengatakan bahwa mereka “sangat prihatin tentang bagaimana kesepakatan gas terbesar dalam sejarah negara itu disetujui.”

LSM itu menyerukan kepada pemerintah untuk mempublikasikan rincian perjanjian tersebut, dan menjelaskan implikasinya terhadap cadangan jangka panjang dan harga konsumen.

Sebelumnya, perusahaan Israel, NewMed Energy, mengumumkan pada Agustus 2025 telah menandatangani kesepakatan senilai 35 miliar dolar AS untuk memasok gas alam ke Mesir. Namun, kesepatakan itu sempat terhenti setelah Cohen awalnya menolak untuk menyetujuinya, dengan alasan kurangnya jaminan bahwa pasar Israel akan menerima “harga yang adil.”

Cohen juga menyatakan kekhawatiran bahwa ekspor tersebut dapat mengurangi cadangan gas alam Israel dan membahayakan keamanan energi domestik.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh perusahaan tersebut, kesepakatan pada Agustus 2025 itu jika disetujui akan meningkatkan total volume gas yang dipasok ke Mesir menjadi 130 miliar meter kubik.

AS dilaporkan memainkan peran penting dalam menekan Cohen dan Netanyahu agar Israel menyetujui kesepakatan memasok gas alam ke Mesir. Menteri Energi AS Chris Wright juga sempat membatalkan rencana kunjungan enam hari ke Israel pada bulan Oktober 2025 setelah Cohen menolak untuk menandatangani kesepakatan tersebut.