Bagikan:

BANDA ACEH – Upaya pencarian korban banjir dan longsor di Aceh terkendala serius akibat banyaknya tumpukan kayu dan material banjir di lokasi terdampak. Hambatan ini membuat tim relawan China yang membawa peralatan khusus pendeteksi jenazah belum dapat bekerja secara optimal sejak tiba di Aceh Besar.

Lima relawan asal China itu didatangkan untuk mempercepat pencarian korban yang diperkirakan masih tertimbun material banjir. Namun, medan yang dipenuhi kayu-kayuan, sisa bangunan, dan lumpur pekat membuat perangkat deteksi tidak dapat digunakan secara efektif.

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, membenarkan bahwa kondisi lapangan sangat mengganggu proses pendeteksian. Menurutnya, tumpukan kayu menjadi hambatan terbesar yang membuat relawan kesulitan menembus lokasi pencarian.

“Hasil kerja mereka belum maksimal, medan masih digenangi kayu-kayuan. Ini membuat pekerjaan terhambat. Mereka kewalahan untuk mendapatkan mayat,” ujar Mualem, Kamis 11 Desember.

Meski belum bisa beroperasi penuh di Aceh Besar, relawan China tersebut sebelumnya sempat melakukan pencarian di Aceh Utara. Di wilayah itu, kondisi medan lebih memungkinkan sehingga beberapa jenazah berhasil terdeteksi.

“Besok mungkin mereka akan pindah ke Aceh Timur atau Aceh Tamiang untuk mencari keberadaan mayat,” kata Mualem.

Pemerintah Aceh menyebutkan bahwa perpindahan lokasi dilakukan untuk memaksimalkan peralatan deteksi yang sensitif terhadap hambatan fisik seperti kayu, logam, dan reruntuhan. Karena itu, dibutuhkan pembersihan material secara masif sebelum perangkat dapat bekerja.

Hingga kini, tim SAR gabungan dan relawan lokal terus berupaya menyingkirkan material kayu yang menumpuk di lokasi banjir dan longsor. Pemerintah Aceh menilai tambahan alat berat sangat dibutuhkan agar proses pencarian dapat dipercepat dan relawan internasional bisa bekerja lebih efektif.