Bagikan:

JAKARTA - Dilaporkan 33 orang tewas setelah pasukan junta mengebom rumah sakit di negara bagian Rakhine, Myanmar, pada Rabu (10/12).

Serangan yang terjadi bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Internasional itu melukai 76 orang, termasuk 27 orang dalam kondisi kritis.

Warga mengatakan jet junta menjatuhkan dua bom seberat 226 kilogram di rumah sakit umum di kota Mrauk-U.

Komite Perwakilan Pyidaungsu Hluttaw (CRPH), mantan anggota parlemen yang mewakili parlemen Burma terpilih terakhir, mengutuk serangan tersebut dan mengatakan waktu serangan itu "hanya semakin menyoroti kejahatan yang telah lama dilakukan oleh kudeta militer."

"Kami mengutuk keras tindakan tidak manusiawi junta militer yang kejam yang mencoba mendapatkan legitimasi melalui pemilihan palsu. Tindakan ini hanya semakin menyoroti kejahatan yang telah lama dilakukan oleh kudeta militer," tulis kelompok tersebut di akun media sosial X dilansir ANTARA dari Anadolu, Kamis, 11 Desember.

Bentrokan etnis telah memperparah krisis kemanusiaan Myanmar karena negara itu masih dilanda konflik sipil hampir empat tahun setelah kudeta militer Februari 2021.

BACA JUGA:


- https://voi.id/berita/542274/zelenskyy-gelar-pembicaraan-dengan-30-negara-galang-dukungan-proposal-perdamaian-adil

- https://voi.id/berita/542256/hujan-dua-hari-rendam-ratusan-tenda-pengungsi-gaza

- https://voi.id/berita/542242/3-warga-thailand-tewas-akibat-bentrok-militer-dengan-kamboja

- https://voi.id/berita/542211/malaysia-gerak-cepat-beri-bantuan-rp2-juta-untuk-pelajar-ri-terdampak-bencana

Pengambilalihan kekuasaan oleh militer pada 2021 menggulingkan pemerintahan terpilih yang dipimpin oleh Liga Demokrasi Nasional pimpinan Aung San Suu Kyi, dan menjerumuskan negara itu ke dalam lebih dari empat tahun pemerintahan darurat.

Kemudian pada Juli lalu, militer mengumumkan transfer kekuasaan nominal kepada pemerintahan sementara yang dipimpin sipil menjelang pemilihan yang direncanakan pada Desember dan Januari, meski kepala junta tetap menjabat sebagai presiden sementara.