Bagikan:

JAKARTA - Angkatan Laut Thailand meluncurkan operasi skala besar yang diberi nama "Trat Prap Porapak," dengan mengerahkan pasukan angkatan laut dan udara di tengah meningkatnya konflik dengan Kamboja.

"Pada tanggal 10 Desember, Angkatan Laut Kerajaan Thailand mengambil alih wewenang operasional yang lebih luas di sektornya karena meningkatnya bentrokan militer dengan Kamboja," kata markas besar pasukan pertahanan perbatasan Thailand yang terletak di Provinsi Trat, dalam pernyataan dilansir ANTARA dari Sputnik, Rabu, 10 Desember.

Kapal perang HTMS Thepa dikerahkan ke area operasi dan ditugaskan untuk melakukan patroli dan pengintaian sepanjang waktu, tambah pernyataan itu.

"Seluruh awak kapal telah ditempatkan dalam siaga tempur penuh, dan senjata sepenuhnya beroperasi dan siap untuk digunakan segera jika terjadi peningkatan konflik," kata militer Thailand.

Angkatan laut juga memperingatkan nelayan Thailand untuk tidak berlayar di dekat perbatasan maritim dengan Kamboja.

Bentrokan di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja meningkat sejak akhir pekan hingga Selasa, dengan kedua belah pihak saling menuduh pihak lawan telah melanggar gencatan senjata.

Sebelumnya pada Senin (15/12), portal berita Khaosod yang mengutip juru bicara militer Thailand, melaporkan Kamboja melancarkan serangan udara ke pangkalan militer Anupong, yang memicu Thailand melakukan serangan balik dengan menargetkan infrastruktur militer.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyatakan pihaknya siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna memastikan keamanan dan kedaulatan negara.

 

Abaikan Trump

Operasi militer Thailand terbaru ini, tampaknya mengabaikan pesan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang  meinta Kamboja dan Thailand sepenuhnya mematuhi komitmen gencatan senjata mereka setelah bentrokan mematikan di sepanjang perbatasan yang disengketakan.

“Presiden Trump berkomitmen untuk terus menghentikan kekerasan yang berkelanjutan dan berharap pemerintah Kamboja dan Thailand sepenuhnya menghormati komitmen mereka untuk mengakhiri konflik ini,” kata seorang pejabat senior pemerintah yang berbicara dengan syarat anonim kepada Anadolu.

Pernyataan itu muncul setelah Thailand melancarkan serangan udara pada Senin dini hari sebagai respons atas serangan sebelumnya oleh pasukan Kamboja yang menewaskan sedikitnya satu tentara Thailand dan melukai beberapa lainnya,

Serangan tersebut mengancam perjanjian gencatan senjata rapuh yang ditandatangani kedua negara pada Oktober di Kuala Lumpur dengan kehadiran Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.