Bagikan:

JAKARTA – Pengasuh Pondok Pesantren Salafi Nahdlatul Ulum, Tangerang, Banten, Kiai Imaduddin Utsman al-Bantani menilai bahwa wacana islah bukan solusi untuk mengatasi konflik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang kian meruncing.

Menurutnya, satu-satunya cara untuk mengatasi polemik di PBNU adalah dengan menghilangkan sumber masalahnya.

“Kedua kubu ini, Rais Aam, Ketum, Sekjen itu harus mundur. Kalau kita ingin menyelamatkan NU, ingin kembali melihat NU berwibawa, ya tentu yang menjadi masalah itu yang harus hilangkan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Minggu 7 Desember.

Kiai Imaduddin menegaskan, situasi di internal PBNU tidak bisa kembali seperti semula meskipun terjadi islah.

Pasalnya, dalam upaya islah harus ada ‘win-win solution’, di mana satu pihak mendapatkan apa dan pihak lain mendapatkan apa.

Hal ini yang tidak diperhatikan oleh pihak-pihak yang mengusulkan islah.

“Maunya yang mengusulkan islah, ya sudah yang berlalu biarlah berlalu, tanpa ada koreksi bagaimana kesalahan itu harus ditindak,” imbuhnya.

Dia menyatakan, setelah kedua kubu yang bertikai mundur, maka secepat mungkin digelar muktamar untuk memilih kepengurusan baru dengan diisi oleh tokoh-tokoh muda NU yang relatif segar dan tidak terlibat dalam pusaran konflik elite PBNU.

“Lebih baik para kasepuhan yang menjadi Rais Aam, Ketua Umum, Sekjen, Bendum, dan Katib Aam, mundur saja. Bismillah, nanti muktamar ke depan biarkan orang-orang muda di NU yang ada di kampung-kampung jadi pegurus PBNU, biar ada ‘darah segar’ yang akan mengembalikan, menyegarkan dan membawa NU menjadi lebih baik daripada masa yang sekarang ini,” terangnya.

Kiai Imaduddin menilai, dalam kondisi PBNU yang karut marut seperti sekarang maka justru akan menguntungkan musuh-musuh NU.

Sebab, NU adalah salah satu organisasi terpenting yang sangat concern dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara.

“Kalau NU sekarang dalam masalah, saya khawatir musuh-musuh NU, akan masuk mengambil kesempatan, kemudian bisa membuat sesuatu yang tidak baik kepada bangsa, kepada NU secara khusus,” tutupnya.