JAKARTA - Pihak berwenang Polandia menangkap sejumlah orang terkait ledakan yang merusak jalur kereta api yang menghubungkan Warsawa dengan perbatasan Ukraina pada akhir pekan lalu.
Jacek Dobrzyński, juru bicara menteri dinas rahasia Polandia, mengatakan para tersangka sedang diperiksa tetapi tidak memberikan rincian berapa banyak yang ditahan, menurut Kantor Berita Polandia, PAP dilansir Associated Press, Rabu, 19 November.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menggambarkan ledakan itu sebagai "tindakan sabotase yang belum pernah terjadi sebelumnya." Menteri Luar Negeri Radek Sikorski mengatakan itu adalah "tindakan teror negara."
Ledakan itu merusak rel kereta api di dekat Mika, sekitar 100 kilometer (60 mil) tenggara Warsawa. Tidak ada yang terluka.
Dalam insiden terpisah di akhir pekan, kabel listrik hancur di daerah Puławy, sekitar 50 kilometer (30 mil) dari Lublin di Polandia timur.
Pada Selasa, Tusk mengatakan kepada parlemen Polandia, pihak berwenang mencurigai dua warga negara Ukraina yang meledakkan jalur kereta api tersebut.
Ia menuduh para tersangka telah lama bekerja sama dengan dinas rahasia Rusia.
Tusk mengatakan identitas mereka diketahui tetapi tidak dapat diungkapkan kepada publik karena penyelidikan yang sedang berlangsung, dan bahwa keduanya telah meninggalkan Polandia dan menyeberang ke Belarus.
Sikorski mengatakan pada Rabu, ia akan memerintahkan penutupan konsulat Rusia terakhir yang masih beroperasi di negara itu sebagai tanggapan atas serangan tersebut.
"Sehubungan dengan hal ini, meskipun ini bukan tanggapan penuh kami, saya telah memutuskan untuk mencabut persetujuan atas pengoperasian konsulat Rusia terakhir di Gdansk," ujarnya.
Dua konsulat lainnya, di Krakow dan Poznan, telah ditutup dalam beberapa tahun terakhir. Kedutaan Besar Rusia di Warsawa tetap buka.
Sebagai tanggapan, Moskow akan "mengurangi kehadiran diplomatik dan konsuler Polandia di Rusia," kantor berita pemerintah RIA Novosti mengutip pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.