Bagikan:

JAKARTA – Kasus meninggalnya MH (13), siswa SMPN 19 Ciater, Serpong, Tangerang Selatan, akibat dugaan perundungan masih menyisakan duka mendalam. 

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong semua pihak, terutama orang tua, untuk memperkuat komunikasi dan kedekatan dengan anak sebagai langkah pencegahan kekerasan maupun bullying.

Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menegaskan bahwa orang tua perlu hadir bukan hanya sebagai pengasuh, tetapi sekaligus sebagai sahabat bagi anak. 

Menurutnya, Kedekatan emosional menjadi kunci agar anak merasa aman bercerita saat menghadapi masalah di lingkungan sekolah maupun pergaulan.

“Orang tua sejatinya bisa berperan sebagai sahabat. Pada kondisi ini, komunikasi antara orang tua dengan anak harus ada kedekatan dan sering menanyakan kepada anak dengan lebih bijak, tidak investigatif,” ujar Diyah saat dikonfirmasi, Rabu 19 November.

Ia juga mengungkapkan banyak kasus perundungan tidak terdeteksi sejak awal karena anak takut atau enggan menceritakan pengalaman buruknya. 

Lantaran, cara yang dilakukan untuk melalukan pendekatan terlalu menginterogasi. Alhasil, anak enggan untuk bercerita dan memilih memendam masalahnya sendiri.

Oleh sebab itu, ia berharap orang tua lebih proaktif memantau kondisi psikologis anak, terutama ketika ada perubahan perilaku yang mencurigakan.

“Kalau orang tua bertanya dengan cara yang menghakimi, anak akan semakin takut. Tapi kalau orang tua menjadi tempat yang nyaman, anak akan terbuka,” tambahnya.

KPAI mendorong sekolah dan pemerintah daerah memperkuat sistem deteksi dini perundungan, termasuk memastikan layanan konseling berjalan efektif. 

“Sekolah harus memiliki respon yang bagus terhadap apapun bentuk pelaporan siswa,” ujarnya 

Sebagai informasi, kasus dugaan bullying di SMPN 19 Tangsel ini tengah menjadi perhatian publik setelah korban sempat dirawat intensif selama sepekan di RS Fatmawati sebelum mengembuskan napas terakhir pada Minggu (16/11). Polisi masih melakukan pendalaman terhadap dugaan kekerasan yang dialami korban.

“Ini momentum bagi semua pihak untuk kembali memastikan lingkungan sekolah aman bagi anak-anak. Jangan sampai ada lagi korban berikutnya,” tutup Diyah.