Bagikan:

JAKARTA - Pesantren memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan akhlak anak. Di masa sekarang, pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga tempat belajar hidup bersama dalam perbedaan. Karena itu, penting bagi pesantren untuk bersikap terbuka bagi semua golongan, agar anak-anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang toleran, saling menghargai, dan siap hidup di tengah masyarakat yang beragam.

Pesantren yang menerima santri dari berbagai daerah dan latar belakang akan menciptakan suasana belajar yang lebih kaya. Anak-anak tidak hanya belajar dari buku dan guru, tetapi juga dari pertemanan mereka sehari-hari. Mereka belajar memahami perbedaan cara berpikir, budaya, dan kebiasaan, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa persaudaraan yang kuat antar-santri.

Bagi orang tua, memilih pesantren yang terbuka dan moderat sangat penting. Lingkungan seperti ini membantu anak mengembangkan akhlak yang baik, berpikir terbuka, dan menghormati orang lain. Pendidikan agama yang diajarkan pun seimbang. Mereka tidak hanya fokus pada ibadah, tetapi juga menumbuhkan empati dan tanggung jawab sosial.

Di era yang serba cepat seperti sekarang, pesantren juga perlu beradaptasi agar tetap relevan. Pesantren yang mengajarkan keterbukaan dan kebersamaan akan melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman dengan sikap bijak dan hati yang lapang.

Salah satu contoh pesantren yang menjalankan prinsip keterbukaan adalah Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah (ATAZ) di Jatiasih, Kota Bekasi. Pesantren ini berdiri di atas dan untuk semua golongan, artinya terbuka bagi siapa pun tanpa membedakan asal, suku, atau latar belakang keluarga. Di sinilah santri dari berbagai daerah hidup bersama dalam suasana penuh kebersamaan dan saling menghargai.

“Sejak awal berdiri, kami ingin ATAZ menjadi rumah bagi semua santri. Kami percaya, nilai ukhuwah islamiyah harus dirasakan setiap hari di sini,” ujar Pimpinan dan Pengasuh Ponpes ATAZ, KH. Mu’ammal Syarief, MA, dikutip Jumat, 14 November.

Prinsip kesederhanaan, kemandirian, dan kebersamaan diterapkan dalam setiap kegiatan belajar, ibadah, maupun kegiatan sehari-hari di asrama.

Untuk mendukung kegiatan para santri, ATAZ menyediakan fasilitas yang lengkap seperti asrama putra dan putri, laboratorium komputer, perpustakaan, dan sebagainya. Semua kegiatan santri dibimbing oleh guru dan pengasuh selama 24 jam.

“Kami ingin anak-anak belajar agama, tapi juga menjadi pribadi yang tangguh, sopan, dan percaya diri,” kata Fannil Abror, S.Kom, Kabag Sistem Administrasi Santri.

Selain itu, ATAZ juga sudah menerapkan sistem administrasi dan keuangan yang terintegrasi, sehingga orang tua bisa memantau perkembangan dan aktivitas anak secara mudah. Kurikulum yang digunakan pun mengikuti standar Kementerian Agama, sehingga para lulusan bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Pesantren masa kini harus membekali santri untuk siap menghadapi dunia modern tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam,” tambahnya.