JAKARTA - Para pejuang Hamas yang bersembunyi di wilayah Rafah, Jalur Gaza, yang dikuasai Israel, tidak akan menyerah kepada Israel, demikian pernyataan sayap bersenjata kelompok militan Palestina itu pada Hari Minggu, mendesak para mediator untuk menemukan solusi atas krisis yang mengancam gencatan senjata yang telah berlangsung selama sebulan.
Pernyataan Brigade Al-Qassam pada Hari Minggu menyatakan, Israel bertanggung jawab atas serangan terhadap para pejuang, yang katanya sedang membela diri.
"Musuh harus tahu bahwa konsep menyerah dan menyerahkan diri tidak ada dalam kamus Brigade Al-Qassam," kata kelompok itu, melansir Reuters 10 November.
Sebelumnya, sumber-sumber yang dekat dengan upaya mediasi mengatakan kepada Reuters pada Hari Kamis, para pejuang dapat menyerahkan senjata mereka dengan imbalan perjalanan ke wilayah lain di kantong tersebut berdasarkan proposal yang bertujuan untuk menyelesaikan kebuntuan tersebut.
Para mediator Mesir telah mengusulkan agar, sebagai imbalan perjalanan yang aman, para pejuang yang masih berada di Rafah menyerahkan senjata mereka kepada Mesir dan memberikan detail terowongan di sana agar terowongan tersebut dapat dihancurkan, kata salah satu sumber, seorang pejabat keamanan Mesir.
Terpisah, utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff mengatakan pada Hari Kamis, kesepakatan yang diusulkan untuk sekitar 200 pejuang akan menjadi ujian bagi proses yang lebih luas untuk melucuti senjata pasukan Hamas di seluruh Gaza.
Brigade Al-Qassam tidak berkomentar langsung mengenai perundingan yang sedang berlangsung mengenai para pejuang di Rafah, tetapi menyiratkan bahwa krisis tersebut dapat memengaruhi gencatan senjata.
BACA JUGA:
"Kami mengutamakan para mediator di atas tanggung jawab mereka, dan mereka harus menemukan solusi untuk memastikan kelanjutan gencatan senjata dan mencegah musuh menggunakan dalih yang lemah untuk melanggarnya dan mengeksploitasi situasi untuk menargetkan warga sipil tak berdosa di Gaza," tegas Hamas.
Diketahui, sejak gencatan senjata yang ditengahi AS berlaku di Gaza pada 10 Oktober, wilayah Rafah telah menjadi lokasi setidaknya dua serangan terhadap pasukan Israel, yang oleh Israel dituduhkan dilakukan oleh Hamas. Kelompok militan tersebut telah membantah bertanggung jawab.
Rafah telah menjadi lokasi kekerasan terburuk sejak gencatan senjata diberlakukan, dengan tiga tentara Israel tewas, yang memicu pembalasan Israel yang menewaskan puluhan warga Palestina.