Bagikan:

YOGYAKARTA - Pajimatan Imogiri merupakan kompleks makam para raja beserta keluarga Mataram Islam yang terletak di Bukit Merak, Girirejo, Imogiri, Bantul. Area ini menjadi nekropolis resmi dinasti, menempati perbukitan yang dipilih karena nilai kesakralan dan posisinya yang strategis dalam lanskap budaya Jawa.

Sejak abad ke-17, Imogiri menjadi tempat peristirahatan para penguasa yang meneruskan garis keturunan ke dua istana penerus: Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Selain bernilai sejarah, situs ini menegaskan tradisi ziarah, menampilkan langgam arsitektur Jawa-Islam, dan memantulkan kosmologi Jawa yang mengikat ruang sakral, kekuasaan, serta ritus masyarakat.

Sejarah Pajimatan Imogiri: Proyek Sultan Agung (1632–1640)

Pembangunan kompleks ini bermula pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ia merancang makam dinasti pada lokasi yang dianggap sakral, mudah dikenali, dan berfungsi sebagai pernyataan legitimasi kekuasaan.

Usai mangkat, Sultan Agung dimakamkan di pusat kompleks yang kemudian disebut Kasultanagungan. Dari titik tersebut, Imogiri berkembang menjadi nekropolis kerajaan dengan susunan ruang bertingkat yang menuntun peziarah menapaki jalur menuju pusat spiritual.

Arsitektur dan Tata Ruang

Imogiri merepresentasikan arsitektur Islam Jawa abad ke-17: dinding bata merah, gerbang berundak, dan halaman berlapis yang menanjak ke puncak bukit.

  1. Gerbang bersusun menandai transisi dari ruang profan ke ruang sakral.
  2. Ratusan anak tangga menjadi laku simbolik: ziarah sebagai perjalanan batin.
  3. Cungkup makam berornamen sederhana, menekankan kesakralan alih-alih kemegahan.

Kombinasi unsur Hindu–Jawa dan Islam tampak pada pola sumbu, aturan orientasi, serta penggunaan bata merah dan kayu jati.

Bagian-bagian Penting

  1. Kasultanagungan: inti kompleks yang menaungi makam Sultan Agung.
  2. Kompleks keluarga Yogyakarta dan Surakarta: area terpisah untuk sultan, raja, dan kerabatnya, mencerminkan kesinambungan dinasti setelah pecahnya Mataram.
  3. Giriloyo dan Banyusumurup: dua kawasan pemakaman tua di sekitar Imogiri yang memperkaya narasi politik dan sosial era Mataram.

Tradisi Ziarah dan Etika

Ziarah ke Imogiri diiringi tata krama ketat.

  • Busana tradisional lazim digunakan untuk memasuki area paling sakral. Peminjaman pakaian tersedia di lokasi.
  • Ritual Sura (Muharam) seperti pembersihan benda pusaka dan wadah-wadah air menegaskan penghormatan pada pendiri dan leluhur.
  • Jam kunjung terbatas saat hari-hari tertentu untuk menjaga kekhidmatan prosesi.

Tips ringkas bagi peziarah: datang lebih awal, siapkan air minum untuk menapaki tangga, dan patuhi arahan juru kunci.

Makna Politik dan Budaya

Imogiri bukan hanya makbarah, melainkan arsip terbuka tentang bagaimana kekuasaan dinasti dimaknai. Keputusan meletakkan makam raja di bukit memperlihatkan cara Mataram mengikat ruang, ritus, dan legitimasi. Di sini, ziarah menjadi medium pendidikan kultural: generasi sekarang belajar tentang tata kerajaan, seni bangunan, hingga etika sosial Jawa.

Poin-Poin Penting

  1. Pendiri: Sultan Agung; pembangunan sekitar 1632–1640.
  2. Lokasi: Bukit Merak, Girirejo, Imogiri, Bantul.
  3. Fungsi: pemakaman resmi raja dan keluarga penerus Mataram.
  4. Ciri visual: bata merah, gerbang berundak, halaman bertingkat, tangga menuju cungkup utama.
  5. Warisan hidup: tradisi busana, ritual Sura, dan peran juru kunci.

Relevansi untuk Wisata Budaya

Bagi peneliti, Imogiri menawarkan data lapangan tentang arsitektur, naskah, dan genealogi dinasti. Bagi wisatawan, jalur tangga yang menanjak, lanskap perbukitan, dan keteduhan pepohonan menghadirkan pengalaman spiritual yang tenang. Ekonomi lokal—penyewaan busana, pemandu, hingga kuliner juga mendapat dampak positif dari kunjungan ziarah.

Pajimatan Imogiri menautkan sejarah Mataram, arsitektur Islam Jawa, dan praktik ziarah dalam satu lanskap yang utuh. Dari Kasultanagungan hingga kompleks keluarga dua istana, setiap gerbang dan anak tangga memuat cerita tentang legitimasi, penghormatan, dan keberlanjutan tradisi. Mengunjungi Imogiri berarti membaca kembali bab penting sejarah Jawa—bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan langkah yang tertib dan hati yang khidmat. Baca juga: Raja Sinuhun PB XIII Hangabehi Mangkat, Keraton Surakarta Gelar Upacara Adat Pemakaman di Imogiri

Jadi setelah mengetahui sejarah pajimatan Imogiri, simak berita menarik lainnya di VOI.ID, saatnya merevolusi pemberitaan!