Bagikan:

JAKARTA - Militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di Lebanon selatan pada Kamis setelah mengeluarkan perintah mengosongkan tiga lokasi. Serangan dilakukan Israel dengan dalih kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, sedang berusaha membangun kembali kemampuan militernya di sana.

Perintah dan serangan tersebut terjadi meskipun ada kesepakatan gencatan senjata yang disepakati setahun lalu, yang dimaksudkan untuk mengakhiri pertempuran lebih dari setahun antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran, dan setelah berbulan-bulan tentara Lebanon membersihkan lokasi-lokasi Hizbullah di selatan.

Kementerian Kesehatan Lebanon belum memberikan informasi langsung mengenai jumlah korban dari serangan udara sore tersebut.

Serangan udara Israel sebelumnya pada hari Kamis menewaskan satu orang, menurut Kementerian Kesehatan.

Juru bicara militer Israel Avichay Adraee mengeluarkan perintah evakuasi pada X pukul 15.00 waktu setempat pada Kamis, 6 November, dengan peta yang menunjukkan tiga bangunan di desa Aita al-Jabal, Al-Tayyiba, dan Tayr Debba.

Perintah tersebut memerintahkan penduduk untuk menjaga jarak 500 meter (1.650 kaki) dari lokasi-lokasi tersebut. Pertahanan sipil Lebanon membantu warga mengevakuasi daerah tersebut, demikian dilaporkan kantor berita pemerintah Lebanon.

Serangan udara dimulai sekitar satu jam kemudian, menyebabkan gumpalan asap tebal ke langit.

Meskipun Israel telah sering melakukan serangan yang menargetkan apa yang disebutnya sebagai lokasi militer Hizbullah dan anggota kelompok yang berada di Lebanon selatan selama setahun terakhir, serangan tersebut jarang disertai perintah evakuasi.

"Israel akan terus mempertahankan seluruh perbatasannya, dan kami juga terus mendesak penegakan penuh perjanjian gencatan senjata antara Lebanon dan Israel," ujar juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, kepada wartawan, Kamis dilansir Reuters.

Bedrosian mengatakan Israel tidak akan mengizinkan Hizbullah untuk mempersenjatai kembali atau memulihkan kekuatan militer yang hancur akibat perang darat dan udara Israel pada 2023-2024.

Hizbullah mengatakan pihaknya berkomitmen pada gencatan senjata, tetapi tetap memiliki "hak yang sah" untuk melawan Israel.

Hizbullah belum menembaki Israel sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku tahun lalu.

Peringatan mengungsi dari lokasi sasaran serangan bertepatan dengan pertemuan kabinet Lebanon untuk mendengarkan informasi terbaru dari komandan angkatan darat Rodolphe Haykal tentang kemajuan dalam penyitaan depot senjata Hizbullah di Lebanon selatan.