JAKARTA — Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan aliansi militer negaranya dengan Rusia akan “maju tanpa henti” dalam pidatonya di upacara peletakan batu pertama pembangunan Museum Peringatan Prestasi Tempur di Pyongyang, Kamis 23 Oktober. Museum itu didedikasikan bagi tentara Korea Utara yang tewas di wilayah Kursk, Rusia, selama perang Ukraina.
Menurut laporan KCNA, Kim menyebut, penempatan pasukan ke Rusia “menandai awal sejarah baru solidaritas militan” dan menjadi bukti “persaudaraan yang dibayar dengan darah berharga.” Ia juga menegaskan bahwa tantangan “dominasi dan tirani” tidak akan memutus hubungan antara kedua negara.
Museum yang diberi nama Memorial Museum of Combat Feats akan dilengkapi aula peringatan, pemakaman, serta monumen dan karya seni yang menggambarkan operasi militer luar negeri. Kim menyebut proyek ini sebagai “yang pertama dalam sejarah Korea Utara” untuk mengabadikan pengorbanan pasukan yang “berjuang di luar negeri demi keadilan dan kemerdekaan.”
Acara tersebut dihadiri oleh Duta Besar Rusia untuk Pyongyang, Aleksandr Matsegora, dan sejumlah pejabat militer Korea Utara serta keluarga tentara yang gugur. The Guardian (24/10) melaporkan, sedikitnya 600 tentara Korea Utara tewas dan ribuan lainnya luka dalam perang di Ukraina.
Keterlibatan militer itu telah diakui secara terbuka oleh Pyongyang pada awal 2025. Dalam pidato yang dikutip KCNA (Korean Central News Agency) dan dimuat Al Jazeera (24/10), Kim mengatakan pasukannya dikerahkan “untuk melenyapkan penjajah neo-Nazi Ukraina dan membebaskan wilayah Kursk bersama angkatan bersenjata Rusia.”
BACA JUGA:
Langkah ini menandai semakin eratnya hubungan militer kedua negara setelah Kim dan Presiden Rusia Vladimir Putin meratifikasi Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif tahun lalu, yang mewajibkan masing-masing pihak memberi bantuan militer “dengan segala cara” bila salah satunya diserang.
Sepertinya, bagi Korea Utara, atau juga Kim Jong Un, pembangunan museum ini bukan sekadar monumen peringatan. Bisa juga ditafsirkan sebagai pesan kepada dunia bahwa Pyongyang kini tampil terbuka sebagai sekutu aktif Rusia dalam lanskap perang modern dan konfrontasi global yang semakin memanas.