YOGYAKARTA - Mengurai fenomena dari Video dr. Faldi SPN yang Viral di Facebook video yang berjudul “Keracunan MBG” yang diunggah oleh dr. Faldi SPN. Video ini viral pada url https://www.facebook.com/dokterfaldispn/videos/keracunan-mbg/2172900003202533/ menimbulkan diskusi luas di kalangan netizen.
Dalam video tersebut, dr. Faldi menjelaskan bahwa sejumlah orang melaporkan gejala seperti mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi produk berlabel “MBG”. Namun, menurutnya, tidak semua kasus benar-benar disebabkan oleh racun atau zat kimia.
BACA JUGA:
Klarifikasi dr. Faldi SPN
Dalam pernyataannya, dr. Faldi menegaskan bahwa tujuan video tersebut adalah memberikan edukasi, bukan untuk menuduh produk tertentu. Ia mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap klaim kesehatan yang tidak didukung bukti ilmiah.
“Saya tidak mengatakan semua kasus adalah keracunan,” jelasnya dalam video tersebut. “Tetapi banyak masyarakat yang tidak memahami bahwa gejala bisa muncul bukan hanya karena zat berbahaya, melainkan juga karena stres, panik, atau efek sugesti.”
Pernyataan ini membuka ruang analisis yang lebih dalam: apakah sebagian laporan “keracunan MBG” sebenarnya merupakan gangguan psikogenik massal (Mass Psychogenic Illness/MPI)?
Ketika Ketakutan Menular Lebih Cepat dari Racun
Dalam konteks kesehatan masyarakat, MPI adalah fenomena ketika sekelompok orang mengalami gejala fisik yang nyata—tanpa sebab biologis atau toksik yang teridentifikasi. Menurut penelitian Bartholomew & Wessely (2002) di jurnal Psychological Medicine, penyebaran gejala ini sering terjadi melalui interaksi sosial dan media.
Fenomena ini sangat mungkin muncul di era digital. Video viral, testimoni di grup WhatsApp, atau unggahan berantai di TikTok dapat menciptakan efek “kontagion emosional”, yakni penularan panik dari satu individu ke individu lain. Dalam kasus MBG, narasi “keracunan massal” bisa saja memicu gejala nyata pada orang-orang yang mendengar atau membaca kisah tersebut, meski tanpa paparan langsung terhadap bahan MBG.
Bukti Klinis yang Perlu Diselidiki
Beberapa tenaga medis yang menangani pasien “keracunan MBG” dilaporkan tidak menemukan hasil toksikologi yang konsisten. Kondisi semacam ini perlu diinvestigasi secara menyeluruh—melibatkan ahli toksikologi, psikolog, dan epidemiolog—untuk membedakan mana yang benar-benar akibat paparan bahan berbahaya dan mana yang merupakan reaksi psikogenik.
Penelusuran yang cermat penting agar masyarakat tidak terjebak pada dua ekstrem: terlalu panik atau justru abai terhadap risiko nyata.
Fenomena “keracunan MBG” menunjukkan tantangan besar dalam komunikasi kesehatan modern. Edukasi publik tidak hanya soal bahaya bahan kimia, tetapi juga literasi terhadap efek psikologis dan sosial dari informasi yang viral.
Kementerian Kesehatan dan lembaga komunikasi publik disarankan untuk:
- Memberikan klarifikasi ilmiah yang cepat dan mudah dipahami.
- Melibatkan ahli psikologi sosial dalam setiap krisis kesehatan yang bersifat viral.
- Meningkatkan literasi kesehatan digital di masyarakat.
Video dr. Faldi SPN telah membuka percakapan penting tentang bagaimana informasi kesehatan disebarkan dan diterima publik. “Keracunan MBG” mungkin bukan sekadar masalah zat kimia, tetapi juga cerminan betapa kuatnya efek kepanikan kolektif di era media sosial.
Selama penyelidikan ilmiah belum menunjukkan bukti toksikologis yang pasti, kita perlu menimbang dua sisi: bahaya bahan yang belum jelas dan bahaya kepanikan yang nyata.