JAKARTA - “Dalam diam pun, sesungguhnya ada dinamika.” Kalimat itu diucapkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat membuka pameran seni rupa bertajuk “Dinamika dalam Diam” di Balai Budaya Jakarta, Menteng, Rabu, 22 Oktober. Pameran ini mempertemukan dua maestro seni rupa Indonesia, Tulus Warsito dan Ar. Soedarto—dua generasi perupa yang sama-sama mengolah keheningan menjadi ledakan gagasan visual.
Menurut Fadli, karya-karya dalam pameran ini memperlihatkan pergulatan batin dan refleksi mendalam tentang makna “diam” dan “gerak”. “Karya mereka tampak tenang, tetapi sesungguhnya penuh gejolak pemikiran. Diam bisa menjadi ruang untuk menggali nilai dan menggugah rasa,” ujarnya.
Sebanyak 31 karya ditampilkan, menonjolkan permainan warna, komposisi bentuk, simbol, dan tema yang kuat. Ar. Soedarto memamerkan karya seperti Gunungan Aksoro Jowo, Looking Javanese Script, dan Bulan Biru. Ia menggabungkan simbol budaya Jawa seperti gunungan wayang dan aksara kuno dengan teknik modern yang progresif—menghadirkan spiritualitas dalam abstraksi.
Sementara Tulus Warsito, Guru Besar Ilmu Politik yang juga perupa lintas disiplin, menampilkan karya seperti Homage to Dali, Pohon Keluarga, Behind the Window, dan The Warrior. Visualnya memainkan ilusi optik dan sapuan ekspresif yang berpadu antara realitas empiris dan imajinasi. Karya-karyanya pernah menembus panggung internasional, dari Biennale Yogyakarta hingga Geoje Art Festival di Korea Selatan.
Keduanya menjelaskan, tema “Dinamika dalam Diam” lahir dari perjalanan panjang pencarian makna. “Karya kami memang statis, tapi kami ingin menghadirkan dinamika—bukan gerak fisik, melainkan getaran batin,” ujar keduanya. Bagi mereka, diam bukanlah pasif, melainkan ruang kontemplatif yang menggema dengan refleksi dan energi kreatif.
BACA JUGA:
Pameran ini dibuka untuk umum hingga 29 Oktober 2025. Fadli menegaskan, Kementerian Kebudayaan mendukung penuh ruang seperti ini sebagai wadah edukasi dan apresiasi publik. “Pameran ini bukan sekadar peristiwa seni, tetapi refleksi kebudayaan yang menumbuhkan kesadaran akan kekayaan identitas bangsa,” katanya.
Acara pembukaan turut dihadiri sastrawan Taufiq Ismail, Kepala Balai Budaya Jakarta Syahnagra Ismail, dan seniman Akbar Linggaprana. Hadir pula Staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Kebudayaan Masyithoh Annisa Ramadhani Alkatiri dan Direktur Pengembangan Budaya Digital Andi Syamsu Rijal.
Menutup sambutannya, Fadli Zon menegaskan pentingnya merawat keberagaman budaya Indonesia. “Sebagai bangsa dengan mega-diversity, pameran ini mengingatkan kita bahwa seni adalah cara bangsa ini berbicara—tanpa kata, tapi sarat makna,” ujarnya.