Bagikan:

JAKARTA - Pejabat Doctors Without Borders (MSF) Aitor Zabalgogiazkoa mengungkapkan infrastruktur kesehatan di Jalur Gaza, Palestina mengalami kerusakan parah akibat genosida Israel yang telah berlangsung selama dua tahun.

Dalam sebuah pernyataan pers ia mengatakan, para tenaga kesehatan, seperti warga sipil lainnya, menderita akibat genosida tersebut.

"Kami telah kehilangan 15 rekan kami dalam dua tahun, dan ini sangat mengerikan bagi kami," ujarnya dikutip dari WAFA 8 Oktober.

Lebih jauh Zabalgogiazkoa menunjukkan, infrastruktur kesehatan telah rusak parah, dengan rumah sakit di beberapa daerah tidak beroperasi sama sekali. Sementara di daerah lain, rumah sakit sebagian hancur tetapi orang-orang tidak dapat mengaksesnya.

"Rumah sakit yang masih dapat menyediakan layanan terpaksa beroperasi di luar kompleks mereka, dan mereka benar-benar kehabisan tenaga," tandasnya.

Zabalgogiazkoa yang merupakan koordinator darurat organisasi tersebut mencatat, rumah sakit menghadapi kesulitan yang signifikan dalam menghasilkan listrik dan menyediakan air, klorin, hingga bahan bakar, serta dalam menyediakan makanan bagi pasien.

Ditambahkannya, tenaga medis telah bekerja dalam kondisi seperti ini selama dua tahun dan benar-benar kelelahan, serta menderita akibat serangan Israel.

Diketahui, konflik terbaru di Jalur Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, saat kelompok militan Palestina yang dipimpin Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan 251 lainnya disandera, menurut perhitungan Israel.

Itu dibalas Israel dengan melakukan serangan udara, blokade hingga operasi darat di Jalur Gaza. Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata dan pertukaran sandera pada 19 Januari hingga 18 Maret.

Sumber-sumber medis di Jalur Gaza mengumumkan pada Hari Selasa, jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 67.173, sementara jumlah korban luka telah mencapai 169.780 orang, termasuk 20.179 anak-anak, 10.427 perempuan, 4.813 lansia dan 31.754 laki-laki.