Bagikan:

JAKARTA - Sedikitnya dua perempuan yang terafiliasi dengan teroris Daesh melarikan diri keluar dari Suriah untuk kembali ke rumah mereka di Australia.

Pemerintah Australia memastikan lembaga terkait memantau kegiatan mereka setelah kembali ke masyarakat. 

"Lembaga kami telah memantau orang-orang ini selama beberapa waktu," ujar seorang juru bicara resmi Pemerintah Australia dikutip dari AFP, Sabtu 4 Oktober. 

Awalnya dua perempuan asal Australia yang disebut "pengantin Daesh" dan empat anak mereka meninggalkan Suriah dan ditahan negara tetangga, Lebanon. 

Penahanan karena mereka tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah. Namun, Pemerintah Australia telah memberikan paspor negaranya untuk mereka. 

Juru bicara kemudian membantah adanya bantuan Pemerintah Australia untuk memulangkan individu-individu di kamp-kamp penampungan orang-orang di Suriah yang diduga terkait Daesh. 

"Jika salah satu dari mereka menemukan cara mereka sendiri untuk kembali, badan keamanan kami yakin bahwa mereka siap dan akan dapat bertindak demi kepentingan keselamatan masyarakat," sambungnya.

Pada tahun 2023, seorang perempuan Australia bernama Mariam Raad diselamatkan dari kamp penahanan Suriah kemudian diadili atas tuduhan terlibat dalam aktivitas suaminya dalam jaringan teroris Daesh.

Mariam Raad dipulangkan pada Oktober 2024 sebagai bagian dari misi kemanusiaan untuk membebaskan perempuan dan anak-anak Australia dari kamp Al-Hol dan Roj. 

Para perempuan tersebut sebagian besar adalah istri para pejuang Daesh. Mereka mengaku dipaksa atau ditipu sehingga mengikuti suami ke Suriah.

Human Rights Watch memuji Pemerintah Australia atas tindakannya menyelamatkan warga Australia dari kondisi yang "mengerikan".