JAKARTA - Kelompok militan Palestina Hamas pada Hari Minggu menegaskan kembali kesiapannya untuk membahas proposal gencatan senjata, namun mengatakan belum menerima proposal baru apa pun terkait terkait gencatan senjata di Jalur Gaza dari mediator.
Laporan media sebelumnya menyebutkan, Hamas telah menerima proposal Amerika Serikat untuk mencapai gencatan senjata di Gaza dan mengakhiri perang Israel di wilayah tersebut.
"Hamas menegaskan bahwa mereka belum menerima proposal baru dari mediator," kata kelompok tersebut dalam pernyataannya, dikutip dari Anadolu 29 September.
Mereka mengatakan negosiasi gencatan senjata telah macet sejak serangan udara Israel pada 9 September terhadap kepemimpinan Hamas di ibu kota Qatar, Doha.
Enam orang tewas akibat serangan itu, termasuk seorang petugas keamanan Qatar. Kendati demikian, Hamas menyatakan kesiapannya untuk mempelajari setiap proposal gencatan senjata.
"Hamas menegaskan kesiapannya untuk mempelajari setiap proposal yang diterima dari mediator dengan sikap positif dan bertanggung jawab, dengan cara yang menjaga hak-hak nasional rakyat kami," kata pernyataan tersebut.
Diketahui, Presiden AS Donald Trump pada 25 September memaparkan rencana perdamaian 21 poin kepada para pemimpin Arab, yang menuntut gencatan senjata permanen di Gaza, pembebasan semua sandera Israel, pemerintahan Gaza tanpa Hamas dan penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah tersebut, menurut beberapa laporan media.
Pemimpin Arab menyetujui sebagian besar poin tersebut tetapi meminta penambahan, termasuk jaminan terhadap aneksasi Tepi Barat, mempertahankan status quo Yerusalem, peningkatan bantuan kemanusiaan, dan penanganan pemukiman Israel, kata diplomat regional kepada CNN.
Terpisah, Hamas pada Hari Minggu mengatakan telah telah kehilangan kontak dengan dua tawanan Israel di tengah serangan Israel yang tak henti-hentinya di Kota Gaza, mengutip Middle East Monitor dari Anadolu.
Sayap militer Hamas, Brigade Qassam, mengatakan komunikasi dengan tawanan Omri Miran dan Matan Angrest terputus akibat "operasi militer barbar dan bombardir berat" di kawasan Sabra dan Tel al-Hawa di Kota Gaza selama 24 jam terakhir.
"Nyawa sandera berada dalam bahaya nyata," kelompok tersebut memperingatkan dalam sebuah pernyataan.
Kelompok tersebut menuntut agar pasukan Israel segera mundur ke selatan Jalan 8 di Tel al-Hawa dan menghentikan serangan udara selama 24 jam mulai pukul 6 sore waktu setempat, untuk memungkinkan upaya menyelamatkan kedua sandera.
Tidak ada komentar dari tentara Israel terkait pernyataan Hamas.
Diketahui, tentara Israel maju beberapa meter ke utara Tel al-Hawa di bagian barat daya Kota Gaza Senin pekan lalu, sebagai bagian dari upaya Tel Aviv untuk menduduki seluruh kota dan memindahkan penduduknya ke selatan.
BACA JUGA:
Konflik terbaru pecah di Gaza usai kelompok militan Palestina menyerang wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan 251 lainnya disandera, menurut perhitungan Israel, dikutip dari Reuters.
Itu dibalas dengan serangan udara, blokade dan operasi darat oleh Israel ke Jalur Gaza. Kementerian Kesehatan pada Hari Minggu mengonfirmasi korban tewas Palestina sejak Oktober 2023 telah mencapai 66.005 orang, sementara korban luka-luka mencapai 168.162 orang.
Israel memperkirakan 48 warganya ditahan di Gaza, 20 di antaranya masih hidup.