Bagikan:

GARUT – Bupati Garut, Jawa Barat, Abdusy Syakur Amin menyatakan dapur penyedia menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab ratusan siswa keracunan ditutup sementara.

“Ya, dipending itu kan berarti ditutup sementara,” kata Bupati kepada wartawan di Garut, Antara, Senin, 22 September. 

Program MBG sepenuhnya berada di bawah kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN), sedangkan pemerintah daerah hanya sebagai penerima manfaat.

“Semua mulai dari izin pendirian, kemudian juga pengawasan, itu sampai saat ini masih dikontrol oleh BGN,” ujarnya.

Abdusy Syakur mengatakan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Kadungora yang menyajikan makanan untuk para siswa kini tidak beroperasi sambil menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan.

Pemkab Garut telah menangani seluruh siswa yang mengalami gejala keracunan makanan. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten Garut juga telah melakukan uji sampel makanan untuk mengetahui penyebab keracunan tersebut.

“Saya juga tidak bisa ngeduga-duga,” ucap Bupati.

Ia menegaskan program MBG merupakan kebijakan pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak di sekolah, sehingga harus dijalankan secara aman dan sehat.

“Yang pasti kami ingin menjamin, inilah kebutuhan pemerintah, Pak Presiden, harus berjalan dengan aman, lancar, penting, dan juga selamat dan sehat,” katanya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Garut menyebut total siswa yang mengalami gejala keracunan makanan mencapai 657 orang, 19 di antaranya dirawat di fasilitas kesehatan dan kini telah pulih.

Kejadian ini berawal dari keluhan sejumlah siswa seperti pusing, mual, dan muntah-muntah setelah menyantap makanan MBG di sekolah mereka—MA Maarif Cilageni, SMA Siti Aisyah, SMP Siti Aisyah, serta SDN 2 Mandalasari di Kecamatan Kadungora pada Selasa (16/9). Kondisi siswa memburuk pada Rabu (18/9) hingga mereka dibawa ke fasilitas kesehatan setempat.