Bagikan:

PESISIR BARAT – Polisi akhirnya berhasil mengungkap kasus pembunuhan sadis kakak beradik di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Pelaku diketahui seorang mahasiswa berusia 19 tahun yang juga tetangga korban.

Kasus ini bermula dari penemuan anting milik salah satu korban di sebuah gubuk yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi kejadian. Temuan itu menjadi petunjuk penting bagi polisi untuk kembali membidik ES, pemuda yang sebelumnya pernah diamankan namun dilepaskan karena minim bukti.

Setelah empat bulan penyelidikan, polisi menangkap ES di rumahnya tanpa perlawanan pada Jumat 12 September. Ia langsung dibawa ke Mapolres Pesisir Barat untuk menjalani pemeriksaan intensif. Hingga Minggu 14 September, status ES masih sebagai saksi.

Dalam pengusutan kasus ini, Polda Lampung dan Polres Pesisir Barat mengirim sejumlah barang bukti ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri. Barang bukti itu meliputi sepasang anting korban, sampel darah, parang, serta pakaian korban. Polisi juga melibatkan dokter forensik, psikolog, dan sejumlah ahli untuk memperkuat penyelidikan.

Keluarga korban menyambut baik penangkapan ES. Namun, paman korban, Agus Ricardo, mengaku belum menerima pemberitahuan resmi terkait penetapan status hukum terduga pelaku.

“Jika terbukti sebagai pelaku, kami berharap dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Pembunuhan ini sangat keji dan sadis,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Batu Raja, Edwarlin, memastikan situasi di lingkungan tempat tinggal ES tetap aman dan kondusif pascapenangkapan.

Ia menyebut warganya berterima kasih atas kinerja kepolisian. Menurut Edwarlin, ES dikenal sebagai sosok yang tertutup dan jarang bergaul, namun kerap membantu orang tuanya bekerja di kebun.

Kasus pembunuhan ini sempat menggegerkan publik. Pada 14 Mei 2025 lalu, dua bocah kakak beradik, AT (8) dan KK (4,5), ditemukan dalam kondisi mengenaskan di area perkebunan sekitar 300 meter dari rumah mereka di Desa Baturaja, Kecamatan Pesisir Utara.

Kedua korban yang awalnya berpamitan mencari durian ditemukan bersimbah darah dengan wajah dan tempurung kepala hilang serta tubuh tidak utuh.